Komunitas Rolling Charity, Rogoh Kocek untuk Santunan hingga Bedah Rumah

Kediri, koranmemo.com – Masih adanya warga yang hidup miskin, mengundang keprihatinan Komunitas Rolling Charity. Komunitas yang berdiri sejak Agustus 2016 lalu rela merogoh kocek pribadi untuk memberikan donasi kepada kaum dhuafa setiap hari Jumat. Tak hanya memberikan santunan, mereka juga melakukan bedah rumah para janda atau duda yang sudah lanjut usia.

————————-

       Berdirinya komunitas yang kini memiliki 108 anggota itu berawal tanpa kesengajaan. Ketika itu tiga pemuda tengah asik mengobrol ringan di sebuah warung kopi. Pembicaraan para pemuda dari berbagai latar belakang itu mengarah pada kehidupan kurang layak yang saat ini masih ditemui. Inilah yang menjadi cikal bakal komunitas yang memiliki arti “perputaran sedekah” terbentuk. “Awalnya memang hanya ngobrol ringan di warung kopi. Ternyata kami mempunyai satu tujuan. Dari situ komunitas ini terbentuk. Rolling artinya perputaran. Charity artinya Sedekah,” jelas Imam Basori, inisiator komunitas tersebut, Rabu (31/1).

Pria yang tinggal di Desa Srikaton Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri itu mengaku, saat itu, dari hasil perbincangan ringan tersebut, dia mampu mengumpulkan uang Rp 150 ribu dari tiga temannya. Merasa mendapatkan respon baik, dia kembali mengkoordinir temannya hingga terkumpul uang lebih dari Rp 200 ribu yang kemudian dia berikan kepada kaum dhuafa di sekitar tempat tinggalnya. “Ketika itu kami memberikan pada seorang nenek yang tinggal di gubuk kecil. Nenek itu mengucapkan banyak terima kasih dan bahkan sampai menangis. Dari situ ada rasa yang tidak bisa kami ungkapkan. Ternyata kami merasakan hal yang sama,” imbuhnya.

Sejak saat itu, dia bersama dengan beberapa temannya semakin getol mendonasikan sedikit harta yang dimiliki kepada sesama yang kurang beruntung. Tak hanya berhenti pada patungan sedekah, tiap anggota juga diwajibkan untuk melihat kondisi ekonomi sebanyak 40 rumah di sekitar tempat tinggalnya untuk mencari kaum dhuafa yang akan diberikan bantuan. “Untuk yang ingin bergabung, mereka awalnya juga harus ikut patungan dulu. Biar mereka ngenyangi dulu sebelum menjadi anggota. Termasuk tim bedah rumah seperti tukang batu, tukang las, ada semua. Namun juga tetap membutuhkan bantuan warga sekitar,” kata pria yang mondok di Ponpes Salafiyah Kota Kediri itu.

Gayung bersambut. Setiap kali mendonasikan bantuan, dia selalu mendapatkan respon positif baik dari lingkungan dan karang taruna sekitar rumah yang diberi bantuan. Kondisi inilah yang memacu semangat para pemuda untuk melakukan karya amalnya. Setidaknya saat ini sudah ada 340  orang yang diberikan santunan dan 20 rumah yang sudah dibedah. Untuk sekali bedah membutuhkan biaya Rp 7 juta dengan penyelesaian waktu sekitar dua hari. “Namun untuk yang bedah rumah, itu pada Jumat Legi saja atau Jumat kelima. Kami menghitungnya menggunakan tanggalan hijriyah. Disini juga tidak ada saldo, artinya setiap Jumat kami kumpulkan dan kami berikan. Rata-rata setiap Jumat terkumpul Rp 4 juta,” jelasnya.

Perbaikan rumah tersebut, menurut Imam bervariasi menyesuaikan lahan dan tempat tinggalnya. Mayoritas ukurannya hanya sekitar 4 meter x 4 meter. Sebab mayoritas mereka tidak mempunyai tanah atau tinggal sebatang kara. Untuk kaum dhuafa yang dinilai masih bisa beraktivitas dengan normal, komunitas tersebut memberikan beberapa perabotan rumah serta alat memasak. Namun untuk janda atau duda yang tidak memiliki keturunan atau dinilai sudah tidak dapat beraktivitas dengan normal, pihaknya berkomitmen untuk menanggung hidup kaum duafa tersebut, seperti listrik, makan dan biaya membayar air. “Memang terdapat perlakuan khusus. Semisal sudah usia senja, lumpuh dan tidak ada yang merawat. Teknisnya nanti bisa kami berikan lewat tetangga sekitar dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Vrian Triwidodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.