Kisah Pilu Tumbal Air Terjun Jurug Gue, “Nak Ayo Muleh, Sesok Sekolah”

Trenggalek, koranmemo.comSuasana duka masih menyelimuti keluarga besar Joko Susapto (36) warga RT 25/RW 07 Dusun Sugihan Desa Sumberingin Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek. Sebelumnya, bapak empat anak itu meninggal dunia bersama dua anaknya setelah terpeleset saat bermain di kawasan air terjun Jurug Gue, tepatnya di kawasan Perhutani masuk RT/RW 06 Dusun Dawuhan Desa Mlinjon Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek, Selasa (1/1).

Ratusan pelayat masih silih berganti mendatangi rumah duka korban tenggelam yang menjadi tumbal Air Terjun Jurug Gue, hingga Rabu (2/1). Kedatangan mereka sebagai wujud belasungkawa atas kepergian Joko Susapto (36) bersama dua anaknya, Arinda (11) dan Fais (10). Tak hanya warga sekitar, Pemerintah Daerah (Pemda) Trenggalek melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) juga terlihat menyambangi rumah duka.

“Kedatangan kami ke sini untuk mengucapkan rasa belasungkawa yang mendalam pada keluarga korban. Kemudian kami datang untuk memberikan bantuan dengan maksud, setelah ini kan ibunya tidak bisa berdiam diri, harus punya mata pencaharian. Mudah-mudahan bantuan ini, Insyaallah untuk bantuan modal kalau dia mau usaha misal buka warung, Insyaallah cukuplah,” ujar Ratna Sulistyowati, Kepala Dinsos P3A di rumah duka.

Ratna menyebut, Pemerintah akan terus hadir untuk memberikan bantuan, baik bantuan fisik maupun bekal keterampilan. Selain mengurangi beban pengeluaran, bekal keterampilan juga bakal diberikan untuk keluarga Joko Susapto agar dapat mandiri, mengingat tulang punggung keluarga bakal ditopang oleh Dumani (36) istri korban. Dumani harus berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan dua anak kembarnya yang masih berumur dua tahun. Pasalnya tidak dapat dipungkiri, kondisi ekonomi keluarga Joko Susapto membutuhkan perhatian khusus.

“Kebetulan keluarga ini menjadi KPM-PKH, keluarga penerima manfaat dari program keluarga harapan. Mereka akan tetap mendapatkan perlindungan sampai anak ini nanti lulus SMA. Nanti yang bersangkutan juga mendapatkan BPNT tiap bulan Rp 110 ribu. Memang saat ini belum cair, Insyaallah kami usahakan Insyaallah Januari ini cair dan harus dirapel, karena seharusnya diterima November kemarin, termasuk jaminan kesehatan melalui BPJS juga sudah,” imbuhnya.

Disinggung soal dua anak kembar korban selamat yang masih berusia dua tahun, Ratna menyebut akan mendapatkan perhatian khusus. Termasuk pembekalan keterampilan kepada ibu korban agar dapat menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Pembekalan keterampilan menyesuaikan dengan bakat dan minat istri korban. Bahkan, Ratna menyebut telah berkoordinasi dengan Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Komidag) untuk membantu penjualan produknya.

“Penanggulangan kemiskinan ada dua, yaitu mengurangi beban pengeluaran seperti BPJS, KPM-PKH, BPNT, dan lain sebagainya, tapi pemberdayaan harus kita lakukan. Karena tidak mungkin selamanya dibantu, harus diberdayakan. Nanti akan kita ikutkan pelatihan sesuai bakat dan minatnya. Apakah ingin menjahit, menyulam atau membuat kue dan lain sebagainya. Kalau komponen dengan anak balita, kalau tidak salah mulai tahun 2019 dalam satu tahun dapatnya Rp 2,4 juta,” pungkasnya.

Sementara itu, tampak dari luar rumah, Dumani (36) istri korban terlihat menyalami beberapa pelayat yang hadir di rumah sederhananya. Nampak beberapa lemari dan perkakas rumahnya bercampur jadi satu di ruang tamu. Beberapa foto empat anaknya hasil buah pernikahan dengan almarhum suaminya juga menghiasi dinding rumah yang terbuat dari batako. Meskipun tengah berduka, Dumani tampak  tegar. Sesekali dia menceritakan kronologi saat bermain di Jurug Gue, yang merenggut nyawa dua anak dan suaminya itu.

“Beberapa hari yang lalu kami sudah kesana (25/12, red) sama anak saya yang kedua (Faiz,red). Terus anak yang pertama (Arinda,red) belum ikut, terus meri (kepingin,red). Terus akhirnya diajak kesana semua, saya sebetulnya sudah tidak mau dari pagi, tapi karena ajakan anak-anak akhirnya berangkat. Sebelumnya tidak ada firasat apapun, kesehariannya sudah begitu orangnya (suka bercanda,red),” kata Dumani kepada koranmemo.com di rumah duka.

Dumani masih ingat betul bagaimana dia berusaha keras untuk menyelamatkan keluarga tercintanya. Bahkan dia harus menyelam beberapa kali untuk menyelamatkan empat anaknya yang tercebur kedalam kedung. Sebab, saat berswafoto ketika hendak pulang, dua anak kembarnya yang masih berumur dua tahun, Kalia dan Kalista tengah digendong bapaknya sehingga ikut tercebur ke dalam kedung.

“Cuma ngambil foto dua kali, yang pertama aku dengan anak-anak, yang kedua cuman anak perempuanku saja. Terus anak laki-laki saya jatuh bangun di air, minum air banyak di dataran rendah, terus saya ajak pulang. Ayo pulang, terus bapak’e bilang ayo pulang ibukmu sudah capek. Mau pulang balik arah kepleset, sebelah barat nggak tahunya itu kedung,” kata Dumani.

Mengetahui suami dan anak kembarnya jatuh dalam kedung, dia secara spontanitas terjun ke kedung bermaksud menyelamatkan. Kemudian, dia segera merangkul dua anak kembarnya untuk dibawa ke pinggir kedung. Tanpa disadari, dua anaknya yang lain ikut menceburkan diri ke kedung dengan maksud memberikan pertolongan pada ayah dan adiknya, namun takdir bicara lain. Mereka malah menjadi korban.

“Kakaknya yang pertama tahu adiknya ngelangi di kedung itu maunya menolong, instingnya mungkin menolong. Terus adik laki-laki juga gitu kasihan melihat adiknya. Terus saya rangkul dan bawa anak (kembar,red) ke pinggir, saya rangkul sama anak yang besar itu (pertama,red) saya rangkul saya tarik ngelangi ke utara. Terus kaki anakku (pertama,red) iku digojek’i sama bapak e kui, dadine maleh ketarik semua. Terus aku ngelangi sendiri sambil gendong anak yang satu itu (kembar red),” cerita Dumani.

Kemudian, lanjut Dumani dia langsung meminta bantuan beberapa orang yang berada di sekitar lokasi. Saat itu, kata Dumani terdapat empat orang berada di lokasi tersebut. Kemudian mereka segera memberikan pertolongan dengan dibantu warga sekitar. Namun sayang, Tuhan berkata lain, dua anak dan suaminya tidak terselamatkan.

Takut terlalu capek bermain, sebelumnya Dumani hendak mengajak pulang, karena dua anaknya yang tewas itu akan masuk sekolah. Dumani menyebut, kata terakhir yang diucapkan kepada dua anaknya yang tewas tenggelam. “Nak ayo muleh, sesok sekolah,” katanya.

“Terus saya lari lagi minta tolong sama orang mengambil anak (pertama,red) yang sudah mengapung di atas air, sama mengambil bapaknya. Jaraknya cuman beberapa menit, 10 menit sampai 15 menit. Sampai di atas sudah saya tekan (pertolongan,red) anak pertama itu sudah keluar semua (air,red), katanya sudah meninggal. Saya sudah berusaha sekuat mungkin menyelam berkali-kali,” ujarnya.

Dumani menyebut, setelah menyelamatkan tiga anaknya, dia mulai tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum air. Dia teringat ketika mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Dr Soedomo Trenggalek. Bahkan, dia tidak mengetahui secara pasti pemakaman suaminya bersama dua anaknya. Sebab saat pemakaman, dia tengah menjalani perawatan medis bersama dua anaknya. Korban tenggelam itu, dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat pada, Selasa (1/1) sekitar pukul 20.00 WIB dalam satu liang lahat.

“Di lokasi air terjun itu di atas batu ada tiga orang, terus saya minta tolong, terus memanggil orang-orang. Saya menyelam anak dan suami saya tadi, anak satunya (kembar,red) dibawa lari (selamatkan,red) sama empat orang itu tadi. Habis itu banyak orang, saya sudah muntah tanpa sadar. Nulung bapaknya kedua anak saya, saya sudah lemas. Anak yang satunya (kembar,red) gegar otak ringan, tadi malam sudah pulang. Alhamdulilah sehat semua,” pungkasnya sembari menyebut terdapat beberapa luka pada salah satu anak kembarnya karena diduga terbentur.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date