Kisah Pengrajin Papan Catur

Kalau Diluar Jawa Saja Bisa, Kenapa Nggak Kalau Dirumah Sendiri

Kalau di luar Jawa saja bisa, lantas kenapa nggak kalau di rumah sendiri. Motivasi itulah yang melandasi Imam Sodiqi l, pengrajin papan catur yang berada di Jalan Ir Soekarno no 209 D Kota Blitar. Malang melintang sembari gonta ganti pekerjaan pernah mewarnai perjalanan hidupnya sebelum memfokuskan diri menjadi pengrajin papan catur.

Sodiq sapaan akrabnya sejak kecil memang terbiasa bekerja. Kehidupan keras yang dialaminya, memaksa Sodiq untuk bekerja saat usianya masih belia. Di kala teman sebayanya kebanyakan bermain, dia lebih memilih untuk bekerja sebagai pedagang asongan. Hal itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya dan tambahan uang jajan. “Sekitar umur 11 tahun, usai pulang sekolah saya sudah menjadi pedagang asongan dengan berjualan berbagai macam kerajinan di area makam Bung Karno,”kenangnya.

Melihat potensi yang ada di areal makam Bung Karno, selain menjadi pedagang asongan, Sodiq mencoba mengembangkan usaha tambahan dengan membuka jasa fotografer. Tak disangka, usahanya begitu melejit hingga ia kebanjiran orderan. “Dulu kan kalau mau mencetak foto harus menunggu sekitar 2 atau 3 hari. Sedangkan saya dulu sekali foto langsung jadi,”jelas pria kelahiran Blitar, 12 April 1960 itu.

Aktivitasnya sebagai pedagang asongan dan juga jasa foto tetap berlanjut hingga menyelesaikan bangku kuliah. Usai menamatkan kuliah, Sodiq meninggalkan pekerjaannya dan kemudian mengadu nasib keluar Jawa.

Rupanya, merantau di negeri orang tak semudah membalikkan telapak tangan. Kehidupan keras kembali mewarnai kesehariannya. Kerap kali ditolak ketika melamar pekerjaan membuat Sodiq kian bersemangat. Satu tahun mencari pekerjaan tak membuat Sodiq patah arang. Semangat itulah yang membawa Sodiq diterima di salah satu perusahaan pelayaran kapal barang milik swasta di Kota Jambi. “Memang hobi saya juga travelling, akhirnya kesampaian juga bekerja yang sesuai dengan hobi saya meskipun harus menunggu selama 1 tahun,”ucapnya.

Bekerja di kapal pelayaran membuat ekonomi Sodiq semakin membaik. Loyalitas kerja yang ditunjukkan Sodiq membuat pemilik kapal mengapresiasinya. Sedikit demi sedikit dia mulai mengumpulkan modal untuk membuka usaha. Bahkan dia juga mempunyai puluhan hektare tanah. “Saya dulu saking senangnya berlayar, berangkat malampun saya selalu siap. Mungkin itulah yang memberikan nilai positif bagi saya,”jelas sarjana ekonomi itu.

Tiga tahun bekerja di Jambi, Sodiq memutuskan untuk pulang dan menikah. Usai menikah, Sodiq memboyong isterinya untuk kembali ke Jambi. Peluang kerja serta kehidupan yang semakin membaik membuatnya berniat menetap untuk menjadi penduduk Jambi. Namun sayang, apa yang dia inginkan bertolak belakang dengan keinginan isterinya. “Ketika itu isteri saya mau jadi guru di sana. Namun lantaran medan yang terjal dan dari segi keselamatan kurang menjamin, isteri saya enggan dan memilih untuk kembali ke Jawa,”ucapnya.

Kembali ke Pulau Jawa, membuat Sodiq harus memutar otak. Sebab dia harus meninggalkan semua harta bendanya dan memulai kembali dari nol. Namun kerja keras serta ketelatenannya patut diacungi jempol. Empat tahun mengontrak Sodiq berhasil mengembangkan usahanya meskipun dalam kondisi keterbatasan. “Sekitar tahun 1990 saya pulang ke Jawa. Setelah itu saya mencoba membuka usaha papan catur di Blitar meskipun masih kontrak rumah. Sebab tak dapat dipungkiri, Kota Blitar memang terkenal dengan berbagai kerajinannya,”jelasnya.

Faktor lingkungan sekitar membuat Sodiq mudah mengembangkan usahanya. Bermodal nekad dia mencoba merekrut 5 orang karyawan untuk membantu mengembangkan usahanya. Tak disangka, 3 tahun menekuni usaha papan catur, Sodiq berhasil mengembangkan usahanya hingga 18 kota di Jawa Barat. “Awalnya juga door to door untuk memulai menawarkan produknya. Alhamdullilah saat ini sudah berjalan dan lancar,”ungkapnya sembari tersenyum.

Selain mengembangkan bisnis kerajinan papan catur, Sodiq juga pernah membuka usaha raket. Namun sayang lantaran pasaran yang tak menentu membuat usaha Sodiq hanya bertahan 16 tahun. Rupanya Sodiq lebih memfokuskan untuk mengembangkan usaha papan caturnya. Tak disangka, usahanya setiap tahunya semakin meningkat. Bahkan saat ini dalam satu bulan bisa menghasilkan hingga 6 ribu unit. “Biasanya naik turun kalau produksi tergantung pesanan. Dari 5 ukuran yang ditawarkan dijual dengan kisaran harga antara Rp 15 ribu hingga Rp 35 ribu,”kata dia.

Usahanya yang semakin berkembang, Sodiq kembali teringat dengan motivasi ketika dia merantau di luar pulau dulu. “Kalau di luar Jawa saja bisa, kenapa kalau di rumah sendiri enggak. Itulah kata-kata yang selalu saya pegang, karena semua itu berawal dari niat,”pungkasnya.(angga prasetya)

 

Follow Untuk Berita Up to Date