Ketua APTRI: Pemerintah Jangan Asal Tutup Pabrik Gula

Kediri, koranmem.com – Pabrik gula yang ada di Indonesia terutama di Jawa Timur merupakan pabrik peninggalan zaman belanda yang jelas sudah usang peralatannya. Inilah salah satu penyebab kenapa hasil gula disini kalah bersaing dengan gula – gula di luar negeri yang sudah menggunakan teknologi termutakhir. Maka, revitalisasi pabrik wajib juga dilakukan untuk menekan impor gula.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan, hampir 50 pabrik gula ada di Jatim yang semuanya adalah peninggalan Belanda yang sudah bertahan sejak ratusan tahun lalu. Maka tidak heran jika produksi gula di Indonesia kalah jauh dari negara Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Australia.

“Sudah ada yang akan ditutup seperti Jombang Baru, Mrican, Mojopanggung, itu kalau mau ditutup petani tebu yang ada di Trenggalek apa mau menjual tebu harus ke Ngadirejo. Itulah kita harapkan, pemerintah jangan asal menutup pabrik gula, kalau mau ditutup sediakan pabrik gula yang baru yang modern,” ujarnya saat hadir dalam diskusi publik meningkatkan produksivitas gula jelang hari besar keagamaan di Kediri, Selasa (9/4).

Lebih lanjut, Soemitro tidak melarang pemerintah impor gula, namun harus dikendalikan sesuai dengan kebutuhan. Pasalnya, jika ingin meningkatkan produksi gula maka petani tebu harus dibuat bergairah dengan penghasilan yang cukup.

“Saat ini kondisinya, petani tebu sudah berjalan dua tahun lebih pendapatannya menurun. Sekarang kalau kita bilang produksi tebu harus dinaikkan maka petani ini harus dibuat bergairah dengan diberikan pendapatan yang layak. Penyebabnya, perkiraan produksi ini dimasukkan tapi menghiraukan stok real kita yang ada, begitu saja pemerintah sudah impor, maka impor ini harus dikendalikan,” jelasnya.

Soemitro meminta pemerintah memperhatikan stok real yang ada sebelum melakukan impor gula. Selain itu, APTRI juga meminta impor gula dilakukan di akhir tahun bukan awal tahun dimana para petani sedang memasuki masa panen tebu.

“Sekarang yang terjadi impor kita lebih dari kebutuhan yang real. Kita berbicara yang real bukan yang ada di atas kertas. Misalnya produksi kita 2,1 juta ton kebutuhan kita 2,7 ton, tapi jangan langsung impor kekurangan 600 itu tapi lihat dulu stok kita. Padahal stok kita di tahun 2019 ini masih 1,2 juta ton cukup tidak usah impor. Tapi jika ini impor lagi maka ini akan kacau panen kedepan petani kita tidak akan seperti tahun lalu,” jelasnya.

Reporter Zayyin Multazam
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date