Kebutuhan Gas Nasional Alami Devisit

Jombang, koranmemo.com – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan, kebutuhan nasional akan energi gas mengalami devisit atau kekurangan mencapai angka 500.000 barel oil per hari. Produksi gas nasional saat ini sebesar 800.000 barel oil per hari, sementara kebutuhan nasional sebesar 1,3 juta barel oil per hari.

Hal itu diketahui saat SKK Migas menggelar pertemuan dengan warga Desa Blimbing Kecamatan Kesamben, terkait rencana pengeboran gas PT Lapindo di desa setempat, Rabu (4/7) malam.

“Memang devisit dalam pemenuhan energi nasional di sektor migas. Kebutuhan sekitar 1,3 juta, sedangkan produksi kita hanya sekitar 800 (ribu) barel oil,” kata Singgih Putra Perdana, Humas SKK Migas Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara kepada wartawan usai pertemuan.

Terkait rencana pengeboran oleh Lapindo, menurut Singgih karena Jombang menjadi salah satu wilayah kerja PT Lapindo, selain di Sidoarjo, Probolinggo dan Situbondo.

“Nah, beberapa tahun ke belakang, juga pernah ada Exxon Mobil Blok Gunting di sini, cuma ternyata Exxon menemui kegagalan dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi,” paparnya.

Selian itu menurut Singgih, Kabupaten Jombang merupakan salah satu wilayah kerja yang potensial. Dari beberapa kajian serta bukti-bukti yang ada di lapangan, ditemukan potensi kandungan gas.

“Salah satunya dari sumur yang dibor oleh PT Kimia Farma di kecamatan setempat, ditemukan kandungan gas. PT Kimia Farma sendiri selama puluhan tahun terakhir, telah melakukan eksploitasi di sekitar wilayah tersebut. Dari sini kami SKK Migas mengambil kesimpulan bahwa Jombang cukup potensial dan kebetulan kontrak kerjasama yang beroperasi di wilayah Jombang adalah Lapindo,” bebernya.

Arief Setyo Widodo, Public Relations (PR) Manager PT Lapindo menambahkan, pertemuan dengan warga masih berkaitan dengan sosialisasi yang dilakukan kepada warga Desa Blimbing, untuk menginformasikan rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh pihaknya.

“Sempat ada penolakan karena warga kurang jelas, jadi apa yang sudah kita infokan kemarin, memang sosialisasi belum kita lakukan, karena kita belum ada kegiatan fisik yang akan kita lakukan,” ujar Arief.

Masih menurut Arief, pihaknya masih sebatas melakukan pendekatan kepada warga sekitar rencana pengeboran. Namun dalam perkembangannya ada sebagian warga yang merasa belum tersentuh.

“Karena memang kita belum ada kegiatan sama sekali, baru sekarang kita mulai ada kegiatan,” sambung Arief.

Sementara, Camat Kesamben Johan Budi Widiyatmiko mengungkapkan, pada pertemuan bersama warga muncul usulan agar ada rumusan permintaaan dari masyarakat dalam bentuk Momerandum of Understanding (MoU).

“MoU itu nanti Insya Allah juga akan saya kawal, dan nanti akan dipelajari dulu sama Lapindo,” tutup Johan.

Sebelumnya, warga Dusun Kedongdong Desa Blimbing Kecamatan Kesamben, melakukan aksi penolakan terhadap rencana pengeboran oleh pihak PT Lapindo Brantas di desa setempat. Aksi penolakan dilakukan dengan memasang spanduk bertuliskan penolakan. Warga khawatir terjadi hal yang sama seperti di Kabupaten Sidoarjo.

Reporter: Agung Pamungkas

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date