Kampung Payung Ramah Anak Siap Sambut Ramadan

Pemanfaatan bahan sisa menjadi sesuatu hal yang positif juga terlihat. Dengan sentuhan tangan yang trampil, ban bekas itu dicat sedemikian rupa. Kemudian ditempatkan di sekeliling lahan TOGA sebagai pagar. “Untuk menjadikan kampung supaya asri dan tanaman yang bisa dimanfaatkan,” tambah Deyisinil.

“Hal ini dilakukan untuk menambah ketertarikan anak-anak sebagai taman bermain. Ban bekas kami cat sedemikian rupa, ada yang digambar binatang, pelangi, dan lain-lain. Intinya gambar yang disenangi anak-anak,” tambahnya.

Harapannya, Kampung Payung Ramah Anak menjadi area taman bermain anak-anak. Sehingga tempat bermain tradisional tidak lagi dilupakan oleh anak-anak. Dan anak-anak tidak perlu lagi membayar mahal hanya sekedar bermain.

“Karena ini swadaya masyarakat, taman bermain ini tidak dipungut biaya. Anak-anak bisa memanfaatkan kampung halamannya sendiri sebagai taman bermain. Bahkan, yang lebih penting lagi bisa kita lakukan edukasi, terutama para orang tua. Karena dilokasi ini juga kami beri tulisan tentang tanaman, hewan, obat-obatan hingga pengetahuan lainnya,” tambah Ketua RT 3 RW 1, Karsiman.

Bahaya “permainan gadget” Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar anak-anak masa kini lebih dominan dengan permainan gadget. Menurutnya, bagi kalangan anak-anak, permainan gadget banyak mendatangkan mudharat. Hal itu dirasakannya saat anaknya yang seusia sekolah dasar sudah mengalami silinder di mata.

“Ini menjadi pelajaran penting terutama bagi para orang tua untuk tetap waspada terhadap penggunaan gadget pada anak. Karena bukan pengetahuan lah yang didapat melainkan dampak-dampak negative. Dan masih banyak lagi pengaruh lainnya terhadap anak,” jelas Deyyis.

Nah, satu-satunya cara untuk mengembalikan tradisi permainan anak yakni dengan mengarahkan anak-anak ke tempat permainan tradisional.

Reporter: Yudhi Ardian

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date