Kadisdik Kota Kediri: Lembaga Pendidikan Bisa Memilih 5 Hari atau 6 Hari Sekolah

Kediri, koranmemo.com – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri, Siswanto menegaskan lembaga pendidikan bisa memilih 5 hari sekolah atau 6 hari sekolah dalam satu pekan. “Memang, kami juga ingin menyesuaikan dengan Permendikbud, tapi juga tidak mungkin dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi ada Perpres, jadi bukan masalah 5 atau 6 hari, tapi lebih menekankan pada tanggung jawab tenaga pendidik dalam menjalankan beban mengajar,” ujarnya, Senin (8/7).

Dikatakan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017  yang mengatur waktu sekolah selama 5 hari dalam seminggu dan 8 jam pelajaran, ternyata masih perlu penyesuaian oleh pihak sekolah. Tak terkecuali sekolah dasar (SD) di Kota Kediri. Hingga saat ini, menurutnya, ada beberapa sekolah saja yang melakukan 5 hari sekolah dan masih dalam tahap percontohan.

Dikatakan, untuk merealisasikan waktu sekolah selama 5 hari dalam seminggu, memang perlu persiapan dan evaluasi dari berbagai pihak. Terlebih lagi permasalahan sarana prasana (sarpras) yang memadai untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

Setelah ada Permendikbud, lanjutnya, untuk jenjang SMP Negeri di Kota Kediri sudah dilaksanakan 5 hari sekolah dalam satu minggu. “Untuk SMP Negeri sudah semua, karena sarpras sudah mendukung. Ini ada lagi pengajuan dari SMP swasta untuk melaksanakan 5 hari sekolah, tapi masih dalam tahap kajian,” ucapnya.

Untuk jenjang SD Negeri, sementara hanya beberapa sekolah yang sudah menerapkan 5 hari sekolah. Setidaknya ada tiga lembaga yang sudah menerapkan, seperti SD Negeri Burengan II, SD Negeri Banjaran IV, dan SD Negeri Sukorame II. Meskipun sudah menerapkan 5 hari sekolah, namun status ketiga sekolah tersebut masih sekolah percontohan.

Diharapkan, dengan adanya sekolah percontohan tersebut, pihak Disdik dapat melakukan evaluasi sehingga pihak sekolah juga dapat mempersipkan sarpras dengan baik.

 Pihak Disdik menilai, pihak sekolah juga mempunyai pilihan dalam melaksanakan Permendikbud tersebut, karena ada evaluasi dari berbagai pihak.
Sebelumnya, sambungnya, Presiden Joko Widodo juga menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017, mengenai Pendidikan Karakter. Dalam Perpres tersebut, tidak ada lagi aturan yang mewajibkan sekolah untuk melakukan KBM selama 5 hari dengan waktu hingga 8 jam dalam sehari.

Dengan demikian, pihak sekolah bisa memilih, akan menerapkan 5 hari atau 6 hari sekolah dalam seminggu. Ini lantaran, dalam satu minggu, tenaga pendidik minimal harus mengajar selama 24 jam.

Memang, menurutnya, dalam Permendikbud, tenaga pendidik bisa memenuhi beban mengajar selama 40 jam dalam seminggu. Tapi, tidak semua tenaga pendidik dapat memenuhi target tersebut, mengingat ada beberapa mata pelajaran yang hanya diberikan dalam waktu yang cukup singkat.

Menurut Siswanto, dengan target tersebut juga membantu tenaga pendidik saat mengikuti sertifikasi guru. Selain itu, sebagai tenaga pendidik harus bisa bekerja secara profesional, dengan mengikuti perkembangan zaman. “Sebagai tenaga pendidik memang banyak tuntutan, terlebih lagi di era yang serba modern seperti ini. Peran Kepala Sekolah juga sangat penting untuk membantu guru memenuhi target mengajar,” imbuhnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date