Jembatan Rejoto Ambruk

Kontraktor Terancam Blacklist

Mojokerto, koranmemo.com – Walikota Mojokerto, Mas’ud Yunus akhirnya angkat bicara terkait ambruknya Jembatan Rejoto (Pulorejo-Blooto). Menurutnya, hal tersebut menjadi tanggung jawab penuh pihak kontraktor. Dia menekankan agar mega proyek senilai Rp 40,2 miliar itu selesai akhir tahun nanti. Jika tidak, dia mengancam akan menerapkan sanksi blacklist kepada rekanan atau kontraktor penggarap.

Mas’ud menilai, ambruknya Jembatan Rejoto pada Jumat (11/11) pagi murni kecelakaan. Jembatan penghubung Kelurahan Pulorejo dengan Blooto di Kecamatan Prajurit Kulon itu ambruk ketika pekerja dari PT Wika memasang balok penghubung keenam sepanjang 50 meter pada bentang tengah jembatan. Balok keenam mendadak ambruk menimpa lima lainnya yang sudah terpasang pada tumpuan. “Mau gimana lagi, itu kecelakaan murni. Hari ini Dinas PU melakukan penghitungan ulang progres dan reschedule pekerjaan,” kata Mas’ud kepada wartawan, Senin (14/11).

Sebelum jembatan sepanjang 130 meter itu ambruk, pemenang lelang, PT Brahmakerta Adiwira dan PT Wika selaku pabrikasi dan pelaksana konstruksi jembatan sudah mengerjakan 80 persen dari target pembangunan. Namun, banyak pihak meragukan mega proyek yang mulai digarap Januari 2016 itu akan rampung tepat waktu akhir tahun nanti.

Ambruknya konstruksi bentang tengah jembatan beberapa hari yang lalu membuat keraguan itu semakin menguat. Praktis pihak rekanan hanya mempunyai waktu 1,5 bulan untuk merampungkan bentang tengah jembatan sepanjang 50 meter yang harus mulai dari awal. Padahal pencetakan girder dan pemasangan pada tumpuan menjadi proses pekerjaan yang paling banyak memakan waktu. “Apapun caranya itu urusan pemborong. Pokok Desember jembatan Rejoto harus selesai, klau tidak kena sanksi sesuai aturan, denda atau paling berat kita blacklist,” tegasnya.

Ambruknya jembatan Rejoto juga menjadi perhatian dewan. Ketua DPRD Kota Mojokerto, Purnomo mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk mengklarifikasi penyebab ambruknya mega proyek Rp 40,2 miliar itu. “Nanti kami panggil kepala PU untuk klarifikasi. Penyebab ambruknya analisa kami bisa juga human eror, pelaksana kurang profesional,” ujarnya.

Purnomo juga ingin agar sanksi tegas diberikan kepada rekanan jika pembangunan jembatan Rejoto tak selesai tepat waktu. “Kalau tak selesai, perpanjangan pengerjaan silakan, tapi sanksi denda tetap harus diterapkan,” tandasnya.

Kepala Seksi Pelaksanaan PT Wika, Mohammad Sholeh mengatakan, ambruknya konstruksi jembatan terjadi pada bagian bentang tengah sepanjang 50 meter yang sedianya akan terhubung dengan 7 girder. Saat kejadian, para pekerja sedang memasang girder ke enam pada tumpuan. Sementara lima balok lainnya sudah terpasang pada tumpuan masing-masing. “Sekitar pukul 08.55 WIB, tiba-tiba terjadi goyang pada bagian tengah balok ke enam. Berakibat balok efek ke ujung dan terguling menimpa balok di sampingnya. Seperti efek domino, akhirnya enam balok terguling semua tercebur ke sungai dan rusak,” kata Sholeh kepada wartawan.

Beruntung, lanjut Sholeh, tak ada korban jiwa dalam kecelakaan kerja tersebut. Sampai saat ini, dia belum bisa memastikan penyebab terjadinya guncangan pada balok ke enam saat akan dipasang pada tumpuan. Saat ini pihaknya fokus mencetak 6 girder pengganti yang membutuhkan waktu lama, sekitar 20 hari. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date