Inspiratif, Anggota Persit KCK Nganjuk ini Penggagas Batik Tulis Anak Angin

Nganjuk, koranmemo.com – Ny. Dewi Indah Nurcahyo, S.Sos., merupakan salah satu anggota Persit KCK Cabang XXIII Dim 0810/Nganjuk Koorcab Rem 081/Dsj yang menjadi sosok wanita inspiratif. Bagaimana tidak, istri dari Serda Munir anggota Kodim 0810/Nganjuk, mampu membuat Batik Tulis Anak Angin yang menjadi salah satu batik khas daerah dan menarik minat masyarakat lokal hingga turis mancanegara.

Seperti diketahui, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kerajinan tradisional, salah satunya pembuatan batik Anjuk Ladang khas Kabupaten Nganjuk kini mulai diminati pasar. Bukan hanya masyarakat lokal saja yang memakainya, namun warga luar kota sampai turis mancanegara sudah mulai melirik seni batik tulis ini.

Ny. Dewi Indah Nurcahyo, S.Sos., sudah menekuni usaha batik tulis khas Nganjuk sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang. Sebagai anggota Persit dan ibu rumah tangga, kegiatan sehari-harinya tidak banyak berbeda dengan kegiatan kebanyakan ibu rumah tangga yang lain. Ia mengawali kegiatan pada malam hari dengan menyiapkan pakaian seragam suami dan anak-anak untuk dipakai esok harinya. Serta memastikan keesokan harinya suami dan anak-anak dapat mengawali harinya dengan baik.

Tapi siapa sangka, disamping sebagai anggota Persit, ibu rumah tangga dan pegawai negeri sipil di Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk, Ny. Dewi Indah Nurcahyo juga mengembangkan hobi yang selama ini ditekuni, yakni membatik. Sebagai putra daerah asli Kabupaten Nganjuk, dia merasa berkewajiban untuk ikut melestarikan budaya yang berasal dari Kabupaten Nganjuk, yaitu seni batik tulis khas Nganjuk yang diberi nama batik tulis Anjuk Ladang.

Dengan kegiatan membatik tersebut, akhirnya ia dapat mengembangkan kegiatan membatiknya dengan membuka produksi batik sendiri yang diberi nama “Batik Tulis Anak Angin” yang sentra produksinya berada di Desa / Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk.

Ia mengakui, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika memulai usaha tersebut. Awalnya banyak kalangan yang memandang sebelah mata. Namun dengan penuh kesabaran dia tetap memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar untuk belajar membatik di tempatnya.

“Semua usaha pastinya mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Namun berkat kegigihan, keuletan doa dan dukungan dari suami dan keluarga dalam menekuni usaha batik ini, akhirnya usaha yang ditekuni ini bisa berkembang dengan baik. Alhasil produksinya dapat dipasarkan ke luar daerah. Bahkan ke luar pulau sehingga meningkatkan perekonomian keluarga maupun masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Sebagai putra daerah Kabupaten Nganjuk, tentu saja dia merasa bangga karena batik yang merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia, saat ini sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Batik merupakan salah satu kekayaan budaya yang sudah menjadi komoditas perekonomian bagi warga, mengingat begitu banyaknya keunggulan yang dimiliki oleh batik tulis khas Nganjuk, sehingga sangat perlu untuk dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. “Selain sebagai sarana pendidikan, juga agar generasi muda khususnya di Nganjuk lebih tertarik menggunakan batik khas Nganjuk,” harapnya.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date