Ini Penyebab Produksi Ayam Petelur Menurun?

Share this :

Blitar, koranmemo.com – Induk dari virus flu burung (H9N2) ditengarai tengah menyerang usaha perunggasan layer (petelur) nasional. Kendati tidak ada laporan kematian ternak yang tinggi, namun virus ini membuat produksi telur anjlok karena kerusakan sistem reproduksi.

Untuk mengetahui apakah virus AI atau H9N2 ini yang menyebabkan reproduksi telur menurun, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar menggelar seminar continiung education ” update perkembangan kasus AI : H9N2 Dalang Kasus Drop Produksi?, “.

Pelaksanaan kegiatan yang digelar berkat dukungan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) cabang Jawa Timur VIII ini berlangsung di salah satu rumah makan  Kota Blitar,Sabtu (4/11).Tak kurang dari 100 dokter hewan dari berbagai daerah mulai di Jawa Timur ,Jawa Tengah ,Jakarta dan Jawa Barat mengikuti seminar tersebut.

Kepala Dinas peternakan dan perikanan Kabupaten Blitar, Ir Mashudi  secara langsung membuka kegiatan tersebut. Pihaknya berharap kegiatan ini dapat menghasilkan titik temu apakah penyebab menurunnya reprodukai telur disebabkan oleh AI : H9N2 ?.

Dalam acara tersebut juga mendatangkan dua narasumber antara lain Prof. Dr. drh.  Suwarno MSi dari Lab Verologi dan imunologi FKH UNAIR dan drh Enuh. R. Jusa Phd dari Kepala Pesvetma Surabaya.

Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan mengingat banyaknya kasus serangan virus H9N2 yang pertama kali ditemukan menimpa peternak di Sulawesi Selatan. Kemudian virus ini terus menyebar di usaha peternakan petelur di Jawa Timur, tapi belum ada pengumuman resmi pastinya jenis virus yang menyerang ayam petelur.

Informasi yang diperoleh di daerah,serangan virus flu burung ini mengakibatkan anjloknya produksi telur hingga 50-60%. Hal ini menimpa usaha peternak layer skala UMKM yakni dengan produksi 20.000-50.000 butir per hari mengalami nominal kerugian yang tidak kecil.

Ketua PDHI Jatim VIII, drh Nanang Miftahudin mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan di Blitar karena berbagai alasan diantaranya populasi unggas sangat besar. Sehingga butuh update tentang kasus-kasus unggas dalam penanganannya.

” Kegiatan ini merupakan continuing education atau belajar berkelanjutan yang diikuti dokter hewan untuk mengupdate keahlian karena kasus penyakit hewan juga terus mengalami update sehingga dalam penanganannya kasus -kasus pada hewan dapat diselesaikan dengan tepat dan cepat, ” jelasnya.

Dijelaskan, gangguan penyakit ini menambah beban bagi peternak , selain mahalnya biaya pakan yang memberi kontribusi sekitar 50 % dari biaya pokok produksi.

Sebagai informasi saja,kegiatan diharapkan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan pasca seminar ini bisa mendapatkan keterangan dan kejelasan penyebab kasus drop production syndrom. Apakah disebabkan oleh AI H9N2?sehingga dengan cepat dan tepat mendapatkan solusi penangananya.

Reporter: Arief Juli Prabowo

Editor: Achmad Saichu

Facebook Comments
Follow Us

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz