Ini Penyebab Perlengkapan Sekolah Gratis Belum Bisa Dibagikan

Tulungagung, koranmemo.com  Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdipora) Kabupaten Tulungagung menyebutkan hingga kini perlengkapan  sekolah yang diterima dari produsen masih sekitar 60 persen. Hal ini berdampak pada proses pemberian perlengkapan sekolah yang meliputi seragam sekolah kepada peserta didik baru di awal tahun ajaran 2018/2019, menjadi molor dan hingga kini belum diberikan.

“Saat ini kami sudah menerima sekitar 60 persen perlengkapan sekolah, dan itu sudah termasuk seragam SD/SMP. Dan penerima bantuan itu sekitar 15.000 siswa tingkat SD. Sedangkan SMP sekitar 13.000,” ungkap Kepala Disdipora Tulungagung, melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Seragam Sekolah, Heri Purnomo, Senin (1/10).Heri menuturkan, apabila tidak ada kendala, dimungkinkan untuk perlengkapan sekolah rencananya mulai dibagikan minggu depan. Dengan begitu, diharapkan bisa meringankan beban siswa ataupun orang tua dalam hal dunia pendidikan. “Rencananya kami akan cek langsung, apabila dirasa sudah cukup rencana dibagikan minggu depan. Maksimal hingga (20/10) mendatang,” katanya.

Lebih lanjut Heri menjelaskan, adapun berbagai jenis perlengkapan sekolah yang diberikan secara gratis kepada siswa, berupa seragam merah putih (seragam reguler), pramuka, batik, sepatu, tas, kaus kaki, ikat pinggang, topi baik untuk tingkat SD atau siswa SMP termasuk MTs.

“Jadi untuk tahun ajaran 2018/2019 ini yang menerima bantuan perlengkapan sekolah gratis yakni SD/SMP negeri dan swasta,” jelasnya.Disinggung terkait kendala molornya pengadaan perlengkapan sekolah itu, Heri mengungkapkan ada beberapa hal. Yang pertama terkait ukuran setiap peserta didik baru mulai  sepatu hingga seragam. Kemudian terkait identitas masing – masing sekolah yang harus tertera pada kaos kaki, tas dan baju olah raga.

Kemudian yang paling lama menueutnya yaitu seragam batik. Sebab, prosesnya membutuhkan waktu lebih lama. Untuk seragam batik ini sebelumnya polos yang kemudian dibatik terlebih dahulu kemudian baru dijahit. “Tentu ini butuh waktu lebih lama dibanding seragam biasa. Kami membutuhkan waktu sekitar satu bulan lagi untuk dapat di bagikan kepada siswa,” jelasnya.

Heri menambahkan seragam yang nantinya diberikan kepada siswa bukan berupa kain. Tetapi sudah dalam wujud seragam siap pakai. Dan untuk pengadaan seragam dan lain sebagainya itu sudah dimulai prosesnya sejak Juli lalu. “Pembuatan dilakukan produsen dari beberapa daerah. Di antaranya Bandung, Klaten, Pekalongan, dan Tulungagung,” pungkasnya.

Reporter : Deny Trisdianto

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date