Ini Alasan 20 Orang Pengungsi Bencana Palu dan Donggala Bermalam di Mess Bhaskara

Sidoarjo, koranmemo.com – Dari 175 korban bencana di Palu dan Donggala tiba di Bandara Juanda, Rabu (3/10/2018) malam, 20 diantaranya terpaksa harus menginap di Mess Bhaskara di jalan Raya Juanda, Sedati, Sidoarjo. Pasalnya, mereka tidak bisa langsung pulang lantaran tidak punya uang.

Rasa syukur diucapkan Joko Waluyo setelah bisa beristirahat dan makan enak meski hanya nasi bungkus pemberian anggota TNI.

Panjatan rasa syukur  dan doa tersebut bisa diartikan mewakili puluhan orang yang saat ini meski harus menginap di aula milik TNI yang berdimensi sekitar 30 X 30 meter tersebut.

“Rencananya, besok pagi baru pulang ke Boyolali diantar ke Bungurasih untuk kembali pulang ke kampung halaman,” terang pria 38 tahun yang 10 tahun berjualan roti di kota Palu ini.

Hal senada dikatakan Tasmani warga Pucuk, Lamongan. Dia mengaku sudah bisa sampai di Jawa sudah bersyukur. “Alhamdulillah besok sudah bisa bertemu keluarga,” kata Tasmani saat menggendong anaknya di Mes Bhaskara.

Di Palu dia tinggal di kamar kos bersama suaminya dan anaknya. Disana, hampir setiap jam merasakan guncangan akibat gempa bumi. “Pas gempa terjadi, saya di rumah sama anak saya ini. Suami pas jualan siomay,” kisahnya kepada koranmemo.com.

Selain dari Tuban dan Lamongan, ada juga beberapa keluarga asal Boyolali yang malam ini menginap di Mess Bhaskara.

Mardi, pria yang berasal dari Boyolali ini juga tiba menggunakan pesawat Hercules bersama istri dan anaknya. Dia mengaku sudah tinggal di Palu sejak tahun 2001. Dia sehari-hari berjualan pakaian di kota yang terguncang gempa 7,4 SR hingga mengakibatkan gelombang Tsunami.

“Di sana masih sering gempa. Tadi siang pas Hercules yang kami tumpangi mau berangkat juga sempat ada gempa lagi,” sebutnya.

Karena tinggal di lokasi yang jauh dengan pantai, keluarga ini hanya mengalami gempa dan tidak sampai terkena gelombang Tsunami.

“Tapi sejak gempa besar itu, kami mengungsi di hutan. Siang hari turun untuk masak dan cari makanan, kemudian balik ke hutan lagi agar aman,” urai pria yang sudah sejak 2001 tinggal di Palu tersebut.

Sampai Rabu (3/10/2018) siang, dia mencoba ke bandara untuk mencari informasi. Dan begitu tahu ada Hercules hendak terbang ke Jawa Timur, dirinya langsung daftar.

Bersama keluarganya, Mardi akhirnya sampai di Juanda. Tapi karena tak punya uang, mereka pun hanya berharap bantuan untuk bisa melanjutkan perjalanan sampai rumah.

Di Palu Mardi dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan. Dan saat gempa besar terjadi, semuanya pun habis. “Tinggal beberapa pakaian saja,” sebut istri Mardi.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 175 pengungsi bencana gempa dan Tsunami Palu dan Donggala Sulteng tiba di bandara Juanda Rabu, (03/10) malam dengan menggunakan pesawat Hercules A 1337 milik TNI AU.

Dari pendataan petugas, terdapat 2 orang pengungsi dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo karena mengalami patah tulang imbas bencana tersebut.

Mayoritas pengungsi berasal dari Jawa Timur ini dijemput pihak keluarga dan sebagian di antar petugas ke Terminal Bungurasih Surabaya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, rencananya, ada dua gelombang kedatangan pengungsi di bandara international Juanda pada Kamis (4/10) sekira pukul 13.00. Jumlahnya diperkirakan lebih banyak dari gelombang malam ini.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date