Ingin Jadi Kebangaan Desa Kelahiran

Kediri, Koran Memo – Terlahir di sebuah desa kecil di Trenggalek, Riza Roidila atau yang lebih akrab dipanggil Riza memiliki mimpi yang besar. Impiannya sejak kecil adalah membangun desa tercintanya, Desa Winong Kecamatan Tugu, agar tidak tertinggal jika dibandingkan dengan desa lainnya. Karena dia masih belum mampu menjadi lurah, camat apalagi bupati, cara yang dia lakukan adalah menjadikan dirinya sebagai kebanggaan desanya.

Riza Roidila
Riza Roidila

Ramai. Begitulah kesan pertama bagi siapapun yang bertemu dengan Riza, panggilan akrab gadis kelahiran 13 Agustus 1992 ini. Meski baru pertama kenal, Riza tidak akan segan-segan untuk langsung berceloteh panjang lebar tentang apapun, tanpa memberikan kesan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) kepada orang yang bertemu dengannya. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang terlihat santai dan seolah tidak memikirkan masa depan, di dalam otaknya telah tersusun rencana rapi untuk mewujudkan semua impiannya.

Sejak dulu Riza memiliki tiga impian besar. Pertama adalah mendirikan rumah baca untuk warga desanya, kedua menjadi seorang jurnalis, dan yang ketiga menempuh pendidikan di luar negeri.

“Bukannya tidak percaya dengan kualitas pendidikan di Indonesia, tapi aku juga ingin melihat negara selain Indonesia. Dengan begitu, ketika di sana nanti, aku bisa merasakan rindu dengan Indonesia, dan ketika kembali rasa cintaku kepada Indonesia akan bertambah,” tuturnya.

Bagi gadis yang juga penggemar berat boyband K-POP BTS (Bangtan Seonyeondan) ini, bersekolah di luar negeri bukan hanya untuk menimba ilmu, namun juga memberikan ruang baginya untuk merindukan Indonesia.

Menurutnya, rasa cinta anak muda terhadap Bangsa Indonesia yang semakin terkikis tersebut lantaran mereka masih menginjakkan kaki mereka di Indonesia, dan merasa rumput negeri tetangga lebih hijau. “Kalau sudah jauh pasti baru kerasa enaknya jadi orang Indonesia,” kata Riza.

Di tahun 2014 silam, satu impiannya terwujud. Sebagai seorang sarjana jebolan Universitas Airlangga Surabaya jurusan Ilmu Komunikasi, bukan hal yang sulit baginya untuk meraih mimpinya sebagai jurnalis. Apalagi semasa kuliah dia telah aktif menjadi jurnalis bagi majalah kampus dan editor di salah satu media cetak besar di Surabaya sebelum akhirnya dia memilih mundur untuk berkonsentrasi mengerjakan skripsinya.

“Sebenarnya berat meninggalkan dunia yang aku cintai. Tapi aku juga yakin setelah lulus nanti pasti banyak kesempatan yang lebih besar. One door closed, two doors open. Iya kan?” kata Riza.

Terbukti, setelah resmi menyandang gelar sebagai sarjana Ilmu Komunikasi, Riza diterima menjadi salah satu penyiar di JJ FM Radio Surabaya. Alasannya adalah jam kerjanya yang fleksibel, sehingga dia bisa mengejar mimpi-mimpinya yang lain.

Setahun berlalu, puluhan beasiswa telah dia coba ikuti namun tidak ada satu pun yang menerimanya. Padahal sudah tidak sedikit biaya yang Riza keluarkan untuk melamar beasiswa-beasiswa tersebut. Nyaris putus asa, di suatu pagi di bulan Juni, sebuah email yang menyatakan dirinya diterima di sebuah universitas di Newcastle menumbuhkan harapannya kembali.

“Padahal itu bukan beasiswa. Harus bayar sendiri. Tapi dengan itu aku bisa lebih semangat untuk mencari lembaga yang mau memberi beasiswa,” kata Riza.

Setelah mencari informasi disana-sini, akhirnya dia menemukan jawabannya, yakni LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang menyediakan biaya bagi para pelajar yang ingin melanjutkan sekolahnya di luar negeri.

Dia mengikuti serangkaian seleksi mulai dari IELTS (International English Language Testing System) yang membutuhkan biaya jutaan sekali tesnya, administrasi, hingga tes wawancara. Semua dia lakukan satu per satu tanpa mengeluh dan doa dari kedua orang tuanya.

Akhirnya, Desember 2015, satu telepon dari LPDP membuatnya bersujud syukur dan menangis menyebut nama Allah. LPDP menerimanya, dan September 2016 dia akan berangkat untuk kuliah di Newcastle jurusan Media dan Broadcast full beasiswa selama 2 tahun. Mimpinya terwujud.

Kini, tinggal satu mimpinya. Membangun desanya dengan mendirikan rumah baca bagi warga di desanya. Sedikit demi sedikit, sebelum keberangkatannya ke Newcastle, dia akan mewujudkan mimpinya.

Bukan hanya rumah baca, dia juga telah merintis portal berita khusus untuk Kota Trenggalek yang diberi nama Enjoy Trenggalek, dengan harapan masyarakat Indonesia menjadi lebih mengenal Kota Trenggalek.

“Pelan-pelan. Pasti akan terwujud. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bahkan jika kamu hanya seorang gadis desa yang selalu diremehkan oleh teman-temanmu,” ujarnya. (della cahaya)

Follow Untuk Berita Up to Date