Ikut USBN, Pelajar Tersangka Pengeroyokan Dikawal Polisi

Trenggalek, koranmemo.comPenyesalan. Kondisi inilah yang menggambarkan psikologis Gendon (nama samaran,red) siswa SMK Negeri I Trenggalek yang terbelit masalah hukum kasus pengeroyokan. Anak Berhadapan Hukum (ABH) yang tinggal di Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek itu mendapat pengawalan ketat dari petugas kepolisian saat mengikuti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di sekolahnya, Selasa (12/3).

Gendon siswa jurusan Teknik Kelistrikan itu bersama dengan beberapa temannya diamankan Unit Reskrim Polsek Sawo Ponorogo karena terlibat pengeroyokan yang terjadi di dekat rumahnya sebulan silam. Untuk saat ini dia menjadi tahanan Mapolsek Sawoo setelah sebelumnya dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Ponorogo.

Gendon menjadi satu-satunya tersangka yang masih mengemban bangku pendidikan sekolah, sehingga untuk saat ini dia tengah mengikuti ujian penentu kelulusan. “Kami tetap memberikan hak-hak yang bersangkutan,” kata AKP Edy Suyono Kapolsek Sawoo kepada Koranmemo.com saat dikonfirmasi.

Sebelumnya, Gendon dititipkan di Lapas Ponorogo setelah sempat menginap di hotel prodeo Mapolres Ponorogo. Namun karena berbagai pertimbangan, dia akhirnya untuk sementara waktu ketika mengikuti ujian dititipkan di Mapolsek Sawoo.

Setiap harinya, Gendon diantar oleh petugas kepolisian untuk mengikuti ujian sekolah. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga nantinya dia dinyatakan lulus. “Pertimbangan lainnya agar yang bersangkutan juga tetap bisa belajar. Kalau disana (lapas,red) ramai,” kata AKP Edy Suyono Kapolsek Sawo sembari menyebut saat ini Gendon tengah menunggu proses pelimpahan berkas perkara bersama dengan tersangka. Dia terancam hukuman lima tahun penjara.

Meskipun berstatus tahanan, Gendon tetap mendapatkan hak-hak belajar dan perlakuan yang sama ketika mengikuti USBN di sekolah. Dia membaur bersama dengan 697 siswa lainnya di enam ruangan yang terbagi ke dalam tiga sesi. “Tidak disendirikan, tetap  menjadi satu dengan yang lainnya. Tadi juga ada pendamping khusus dari sekolah, tidak kami sisihkan. Tadi kami kasih sarapan, tapi tadi dari sana juga sudah sarapan. Kita kumpulkan dengan teman-teman, tapi setelah selesai langsung kesini. Dari pihak sana (polisi,red) tidak mengekang, setelah itu langsung pulang,” kata Suharyati, Kepala SMK N I Trenggalek.

Pihak sekolah memastikan jika Gendon tidak mengalami tekanan psikologis karena rawan terjadi bullying oleh sesama teman sekolahnya. Oleh sebab itu, pihak sekolah selalu memantau ketika dia mengikuti USBN. “Anak-anak di sini waktunya masuk langsung kami (Gendon,red) bawa ke kelas. Di kelas kami serahkan kepada petugasnya. Setelah selesai Pak Pri (guru pendamping sekolah,red) langsung menjemputnya. Tidak ada (temannya,red) yang bicara apa-apa. Alhamdullillah kemarin anaknya saya tanya, katanya nyaman. Teman-temannya sudah paham itu,” jelasnya.

Suharyati menyebut, nantinya Gendon akan mengikuti beberapa ujian lagi di sekolah mengingat ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk menentukan kelulusan. Terkait materi pembelajaran, pihak sekolah mengaku sudah memberikan materi secara menyeluruh sebelum Gendon tersandung masalah hukum. “Selama empat hari diantar oleh polsek, karena USBN kita berbasis komputer. Sedangkan nanti soal aplikasi dari pihak sekolah, kami nanti yang akan ke polsek. Setelah ini ada UKK anaknya harus datang kesini diantar, UN juga kesini nanti. Mereka juga berhak lulus asalkan mengikuti seluruh rangkaian ujian,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date