Ide Pertama Justru Datang dari Tukang Rosok

Mbah Munif bersama motor BSA kesayanganya(memo/bakti)
Mbah Munif bersama motor BSA kesayanganya(memo/bakti)
Mbah Munif bersama motor BSA kesayanganya(memo/bakti)
Mbah Munif bersama motor BSA kesayanganya(memo/bakti)

*Kisah Perburuan Barang Antik, Mbah Munif (1),

Memasuki rumahnya, seperti memasuki pasar loak atau show room onderdil motor langka yang jarang dijumpai. Di dalamnya, bertumpuk atau berjajar barang antik dengan berbagai jenis. Sementara barang yang dipajang, rata-rata usianya diatas 40 tahun. Para peminatnya tidak hanya dari Kediri atau Indonesia pada umumnya tapi juga dari Belanda.

 

Pria berkepala plonthos ini dengan suka cita menyambut Memo yang bertandang ke rumahnya yang dipenuhi dengan motor antik,barang antik dan onderdil motor zaman dulu. Selanjutnya pria dengan tiga anak ini bercerita suka dan dukanya merintis kegemarannya menjadi kolektor barang antik, utamanya motor antik.

Di tahun 1973, saat dia memulai usaha bengkel motor, kedatangan seorang tukang rosok yang mencari barang yang tidak terpakai namun bisa dijual di pasar loak. Saat itu tukang rosok membawa beberapa sepeda motor yang kelihatannya sudah rusak atau mesinnya mati. Munifpun penasaran dan menanyakan kepada tukang rosok, apakah barang tersebut dijual.

Saat itu Munif sangat tertarik dengan motor rosok karena modelnya dinilai bagus dan jarang dimiliki orang. Akhirnya Munif berusaha merayu tukang rosok dan berusaha membeli. Tawar-menawapun terjadi hingga akhirnya tukang rosok menyerah, merelakan motor rosoknya dibeli Munif dengan harga yang pasaran di loak cukup murah.

“Kalau dijual ke orang lain atau ke pasar loak, mungkin harganya bisa lebih tinggi.Namun karena dijual ke saya, harganya bisa jauh dibawah pasaran, karena tukang rosok itujuga teman baik saya.Setelah itu, motor saya perbaiki dan bisa dikendarai dan kemudian saya rawat secara baik. Motor yang tergolong antik dab bagus itu akhirnya dibeli orang dengan harga tinggi,” jelasnya.

Dari situ, akhirnya Munif dikenal sebagai mekanik bengkel dan pemburu motor lawas. Selain motor antik yang dibeli kenalannya,ada juga motor setelah diperbaiki malahmenjadi koleksi pribadi. Di antaranya motor besar seperti BSA,Honda 67,68,69, Zundapp, CB dan honda kalong 70. Untuk yang terjual dengan harga tinggi diantaranya jenis Hycles, gondang-gandung dan beberapa jenis motor klasik lainya.

Sedangkan sepeda angin atau sepeda pancal, dia juga mengkoleksi cukup banyak yang diburudan membeli dari temanya seprofesi.Sepeda yang dikoleksi adaHember,Fongers dan Simplex. Semua produksi luar negeri utamanya dari Belanda dan Jerman.

Saat itu, harga sepeda masih murah namun kini harga sepeda pancal sudah berlipat hingga mencapai Rp 5 juta/unit. Munif tak kadang tak kuasa menolak jika ada sahabat dari luar kota yang menawar benda antik miliknya, meski itu menjadi koleksi pribadi.

Barang antik yang dikoleksinya, kini ada lima belas motor dan sepuluh sepeda lawas. Sekalipun sudah memiliki sepeda motor antik,namun hobinya memburu barang antik tetap dilakuka. Dari perburuanya itu ia bisa mendapatkan jam tangan kuno,jam dinding dan gramaphone (alat musik).

“Hingga saat ini,sejumlah barang antik yang saya miliki, rata-rata usianya diatas 30 tahun. Karena barang lama dan langka, makanya peliharanya juga harus telaten dan sabar, sehingga tetap menarik para pecintanya,”katanya.(bak/bersambung)

Follow Untuk Berita Up to Date