Hutan Mangrove Pancer Cengkrong Sebagai Wisata Edukasi

Trenggalek, Koranmemo.com – Menyebut Trenggalek seperti sebuah daerah Kabupaten yang tersembunyi bagian selatan provensi Jawa Timur. Dibalik 2/3 wilayahnya yang terdiri dari pengunungan, ternyata Kabupaten Trenggalek menyimpan beberapa destinasi wisata terutama bahari yang terkenal dan eksotik.

Perubahan yang begitu pesat setelah Jalur Lintas Selatan selesai dibagun, menumbuhkan wisata baru dan untuk yang terakir, dipantai Cengkrong telah hadir kawasan konservasi hutan bakau seluas sekitar 100 ha. Sebuah kawasan yang dibangun secara bertahan atas dasar inisiatif dari masyarakat sekitar yang peduli dengan alam khususnya di daerah muara sungai.

Tempat itu bernama Ecowisata Mangrove, Pancer Cengkrong Trenggalek. Lokasinya di pantai Cengkrong, desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Untuk mencapai lokasi Hutan Mangrove Pancer Cengkrong, rute dari pusat kota Trenggalek menuju ke arah kecamatan Watulimo yang terdapat Pantai Prigi dan Karanggongso.

Sebelum memasuki kawasan Pantai Prigi ada persimpangan besar dan ambil jalan ke arah kanan menuju arah Pantai Cengkrong dan Pantai Damas. Posisi Hutan Mangrove Pancer Cengkrong berada seberang jalan pintu masuk Pantai Cengkrong dan sebelum Jembatan JLS Damas dan letaknya berada di sisi kanan jalan.

Hutan Mangrove Pancer Cengkrong yang dikembangkan sebagai kawasan wisata, dikelola masyarakat setempat dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kejung Samodra. Kawasan ini cocok untuk kegiatan pembelajaran di alam khususnya tentang ekosistem hutan mangrove (bakau). Pengunjung juga diperbolehkan mengikuti kegiatan penyemaian, pembibitan hingga penanaman bakau,

Terdapat Spesies tanaman bakau yang ditanam di tempat ini antara lain Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Avicennia alba, Excoecaria agallocha, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Bruguiera sexangula dan Xylocarpus moluccensis.

Dalam Kawasan Hutan mangrove pancer Cengkrong terdapat aliran sungai yakni sungai Kalisongo dan alisan sungai menuju muara dibatasi jembatan yang dikenal dengan Jembatan Galau dimana di area jembatan Galau terdapat dermaga Kecol, disini wisatawan bisa berkeliling mengelilingi Hutan bakau dengan sampan,

Setiap 100 meter menyusuri Jembatan Galau dibangun gasebo sederhana sebagai tempat berteduh dan beristirahat. Gasebo tersebut bebas dimanfaatkan oleh pengunjung untuk bersantai. Diharapkan kawasan Hutan mangrove tidak hanya untuk tempat menikmati alamnya tetapi juga bisa menjadi pembelajaran untuk peduli dengan alam.

Editor Bambang Iswahyoedhi

Follow Untuk Berita Up to Date