Hasil Panen Turun, Harga Gabah Naik

Kediri, koranmemo.com — Beberapa petani padi yang berada di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri masih memanen tanaman padi, meskipun hasil panen menurun dibandingkan dengan panen pertama, tapi harga gabah justru meningkat. Penurunan hasil ini dikarenakan musim tanam kedua mulai memasuki musim kemarau.

Salah satu petani padi di Kelurahan Ngampel, Surat (67) mengatakan, untuk lahan pertanian yang ditanami padi sekitar 150 ru, saat ini mempu menghasilkan gabah basah mencapai 1 ton. Meskipun jumlah ini lebih sedikit jika dibandingkan pada panen pertama yang mencapai 1,2 ton. “Kan waktu musim tanam pertama masih musim penghujan, jadi ketersediaan air masih banyak,” ujarnya, Senin (9/9).Hasil panen yang turun 200 kilogram ini, justru membawa berkah bagi petani padi. Pasalnya, harga gabah baik basah maupun kering meningkat, sebelumnya petani sempat mengeluh harga gabah rendah dan tidak mampu menutupi modal yang dikeluarkan. Untuk saat ini, gabah basah (langsung dari lahan) dijual Rp 5.200 per kilogram.

Pada musim tanam pertama, harga gabah basah sempat anjlok berkisar antara Rp 3.600 sampai Rp 4.000 per kilogram. Sedangkan harga gabah kering saat ini mencapai Rp 5.800 per kilogram. Pada musim tanam dan panen pertama, petani hanya mampu menjual hasil panen berupa gabah kering hanya Rp 5.000 per kilogram.

Sementara itu, Nurgito (70) petani lainnya memperkirakan pendapatan pada panen kedua ini meningkat. Namun, peningkatan ini bukan hasil panen, tapi hasil penjualan gabah kepada para tengkulak. “Alhamdulillah naik, semoga panen kedua ini bisa menutupi modal yang dikeluarkan saat musim tanam. Kalau hasilnya bagus, musim tanam ketiga tetap ditanami padi,” tuturnya.

Nurgito juga tidak terlalu mengkhawatirkan upah yang akan diberikan kepada para pekerja yang membantu memanen padi. Karena, para pekerja meminta sistem pembayaran dengan bagi hasil. Misalnya, dalam panen ini petani mendapat 1 ton gabah, maka para pekerja yang mencapai 12 orang ini mendapat bagian 1 kuintal gabah.

Namun, setiap petani mempunyai perjanjian yang berbeda dengan para pekerja, ada yang membagi hasil 1 kuintal dari 9 kuintal hasil panen, ada pula yang membagi 1 kuintal dari 1 ton hasil panen. “Pembagian ini tergantung hasil panen, karena luas lahan yang sama pun hasil panennya juga bisa berbeda. Apalagi kalau luas lahan lebih sedikit, jadi tergantung perjanjian antara petani dan pekerja,” pungkasnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date