Harga Hancur, Petani di Blitar Biarkan Tomat Membusuk di Sawah

Blitar, koranmemo.com – Petani tomat di Blitar memilih membiarkan tanaman mereka membusuk di sawah. Pasalnya, harga tomat tidak sebanding dengan biaya produksi. Jika harus dipanen, mereka masih mengeluarkan biaya untuk mengangkut.

Seperti yang dilakukan oleh Erpani petani dari Desa Kendalrejo Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Meski tomat yang dia tanam sudah siap untuk dipetik, Erpani memilih membiarkannya membusuk di sawah.

“Ini sengaja saya biarkan membusuk dan mengering disini. Jika sudah mengering mau saya ganti dengan tanaman cabai,” ujarnya, Rabu (11/9).

Dikatakan, harga tomat saat ini dikisaran Rp 400 sampai Rp 500 per kilogram. Harga itu jauh dari harga tomat biasanya, sekitar Rp 5.000 per kilogram. Padahal, modal yang dia keluarkan mencapai jutaan rupiah untuk  proses penggarapan mulai membajak sawah, hingga biaya pekerja.

“Kalau harus dipanen biaya tambah lagi. Ongkos petik saja satu orang Rp 50 ribu, belum nanti ongkos angkutnya dari sawah ke rumah,” tambah Erpani sambil berharap pemerintah ikut membantu situasi petani tomat saat ini.

Terpisah, Kasi Hortikultura Dinas Pertanian Pemkab Blitar, Hikmah Wahyudi mengatakan, saat ini stok tomat di pasaran melimpah. Lantaran petani tomat di setiap daerah sedang panen bersama.

“Tomat hasil panen petani Blitar biasanya juga disetor ke pasar tradisional Ngronggo, Kediri. Karena petani Kediri juga pas musim panen, sehingga hanya sebagian kecil tomat petani Blitar yang diterima disana,” ujarnya.

Sementara itu, harga tomat di pasaran masih dikisaran Rp 4000 sampai Rp 5000 per kilogram. Samsul salah satu pedagang sayur mayur di Garum Kabupaten Blitar mengatakan, harga itu turun dibanding beberapa hari sebelumnya. “Ini sudah mulai turun, kalau kemarin masin diharga Rp 7 ribu per kilogram untum tomat kualitas bagus. Tapi sekarang sudah Rp 5 ribu an per kilogram,” katanya.

Reporter Zayyin multazam sukri

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date