Group musik Pep’s Reggae & Rasta

Tepis Stigma Buruk, Pengguna Narkoba Dilarang Bergabung

Reggae dan Rasta. Mendengar dua kata itu pikiran sebagian besar masyarakat pasti langsung kepada sosok berambut gimbal dengan kehidupan yang terkesan bebas. Bahkan, tidak sedikit yang mengidentikkan musik reggae maupun rasta dengan ganja atau narkoba. Seperti yang sering disebut-sebut dan digambarkan pada sosok Bob Marley.

Mayoritas masyarakat menilai, sosok Bob Marley identik dengan rambut gimbalnya, ganja, dan warna merah kuning hijau. Menurut para penganut aliran ini, warna merah kuning hijau merupakan bendera Rastafari Movement atau sering disingkat dengan Rasta. Namun apakah semua pemusik maupun pelaku reggae dan rasta memiliki citra buruk seperti anggapan masyarakat pada umumnya? Tentu saja tidak.

Di Kabupaten Nganjuk maupun daerah sekitar, reggae dan rasta sebenarnya sudah mulai mewabah. Bahkan orang-orang berambut gimbal yang menganut aliran tersebut membaur bersama masyarakat.

Karena tak mau diidentikan dengan ganja atau narkoba, para pecinta musik reggae dan rasta di Nganjuk menyuarakan sikap tegas. Langkah yang diambil tidak tanggung-tanggung, mereka tidak pernah mau menerima anggota yang terbukti bersentuhan dengan narkoba. Hal ini tentu saja dilakukan untuk menghilangkan anggapan buruk yang diberikan masyarakat.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Pepy, Koordinator Pecinta Musik Reggae dan Rasta di Nganjuk. Menurutnya, kesan negatif terhadap musik reggae dan rasta yang diidentikkan dengan ganja harus dihilangkan. Karena pada dasarnya jenis musik aliran tersebut tetap bisa dinikmati walau tanpa narkoba. “Setiap malam kami memainkan musik reggae dan rasta. Tetap seru untuk dimainkan tanpa narkoba, yang kami minum ya kopi,” ungkapnya.

Kendati kelompok yang dia ikuti biasa memainkan musik jenis reggae dan rasta, namun dia tetap mempersilakan bagi pecinta musik bergenre apapun untuk datang ke basecamp-nya. “Di sini kami terbuka kepada siapa saja yang mau bergabung, meskipun mereka dari aliran musik lain,” imbuh Pepy yang juga pemilik Pep’S Coffee Rasta.

Berbagai jenis peralatan musik memang tersedia di tempat yang menjadi tongkrongan sekaligus tempat ngopi seru ini. Mulai dari berbagai jenis gitar, cajon, kecer, dan lainnya. Keseruan bertambah karena setiap malam mereka juga melantunkan lagu indah beraliran musik reggae dan rasta di halaman café tersebut.

Di sela-sela waktu santainya, Tedy, vokalis Group Pes’S Reggae & Rasta menjelaskan seputar kedua aliran yang selalu menjadi perbincangan seru di komunitasnya. Menurutnya, musik aliran reggae dan rasta yang kerap diidentikan sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta merupakan singkatan dari Rastafari, yaitu sebuah pilihan jalan hidup, namun ada yang lebih suka menyebutnya “the way of life” atau cara hidup. “Tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, begitu juga sebaliknya,” pungkasnya. (andik sukaca)

 

Follow Untuk Berita Up to Date