Gara-gara Tanah Uruk, Dipenjara  1 Tahun 8 Bulan 

Lamongan, koranmemo.comBayu Ganda Setiawan (33) warga Dusun Modo Desa Mojoreko Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan akhirnya divonis bersalah dan dijatuhi pidana lebih ringan daripada tuntutan JPU Lamongan, yakni 1 tahun 8 bulan kurungan penjara oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lamongan, Rabu (6/6/2018).

Dalam amar putusannya, yang dibacakan Hj. Nova Flory Bunda,S.H.,M.Hum selaku Ketua Majelis Hakim bahwa terdakwa terbukti melanggar pasal 372 KUHP dan pasal 378 KUHP tentang penipuan, dan terdakwa mengakui perbuatannya tersebut berdasarkan tiga unsur yang sudah terpenuhi.

“Oleh karena itu terdakwa dijatuhi hukuman 1 tahun 8 bulan penjara dengan dikurangi masa tahanan dan diberikan waktu tujuh hari untuk pikir-pikir mau mengajukan banding atau tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, Yulistiono,S.H.,M.H  Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Bayu Ganda Setiawan dengan 2 tahun 6 bulan dan disaat pembelaan tidak ada saksi meringankan.

Usai sidang, Kuasa Hukum terdakwa Dr. Luqmanul Hakim, S.H.,M.H menjelaskan bahwa keluarga terdakwa sempat tidak menerima putusan terbebut dan akan melakukan banding, namun setelah berkomunikasi akhirnya keluarga berusaha menerima keputusan tersebut.

“Awalnya seperti itu, namun setelah saya beri tiga masukan. Akhirnya pihak keluarga berusaha menerima dan akan pikir-pikir lagi dengan keluarga yang ada di rumah,” jelasnya sembari mengatakan jika pihak kuasa hukum akan mengajukannya sebelum hari libur. “Terakhir hari Jum’at, kita tunggu saja keputusan keluarga terdakwa,” tambahnya.

Sekedar diketahui, kasus ini bermula dari terdakwa  Bayu Ganda Setiawan dihubungi oleh Dewo untuk keperluan pembelian material tanah paras yang akan digunakan pengurukan pekerjaan  proyek, lalu Dewo menstranfer  uang sebesar Rp 5.000.000.- kepada  terdakwa.

Selang waktu satu minggu kemudian  tepatnya pada tanggal 26 Januari 2017  terdakwa  bertemu  dengan  korban Mujianto  di rumah  Dewo  di Dusun Gonjo , Desa Mojorejo, Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan dan terjadi kesepakatan.

Korban Mujianto  sepakat membeli  material tanah paras uruk  untuk  melaksanakan pekerjaan  pengurukan  jalan  akses masuk Pertamina di Dusun Jimus  dengan harga Rp 170.000/ rit  dengan  Deposit  Rp 80.000.000.

Kembali lagi Mujianto menyerahkan  uang tunai Rp 35 .000.000.- kepada  terdakwa untuk DP.  Sedangkan  kekurangannya  sebesar Rp 45.000.000.- diterima  oleh Dewo melalui  transfer  ke rekening Dewo  dalam  2 kali transfer .

Selanjutnya  terdakwa  meminta kekurangan uang DP  pembelian  tanah paras urukan  kepada Dewo  yang diterima  dari  korban Mujianto, kemudian terdakwa menerima  uang dari Dewo  sebesar Rp. 32.000.000.- melalui 4 kali transfer  ke rekening terdakwa.

Sehingga, terdakwa Bayu Ganda Setiawan bin Puguh Pribadi sudah menerima uang  korban Mujianto untuk DP pembelian material tanah paras uruk  sejumlah Rp. 67.000.000.-, sedangkan  yang sebesar Rp. 13.000.000.-  dipergunakan  oleh Dewo   setelah menerima uang DP  pembelian  tanah uruk paras dari korban  Mujianto  sebesar Rp. 67.000.000.-

Lalu, terdakwa tidak menggunakan uang DP tersebut untuk  mengirim tanah paras urukan  yang dibeli korban Mujianto akan tetapi uang tersebut  dipergunakan  untuk kepentingan terdakwa sendiri  dan sebagian  untuk orang lain. Akibat perbuatan  terdakwa saat itu korban  dirugikan sebesar Rp. 58.000.000.

Reporter: M. Fiddin/Fariz Fahyu

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date