Festival Jamu Nganjuk 2019, Kembalikan Eksistensi Minuman Herbal

Nganjukkoranmemo.com – Minuman herbal khas Indonesia atau yang kerap disebut jamu tradisional dipercaya masyarakat mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Guna mengembalikan eksistensi minuman berkhasiat itulah, Pemerintah Kabupaten Nganjuk menggelar festival jamu Nganjuk 2019, Minggu (10/2) di Alun-alun Nganjuk.

Sekitar 40 peserta terlihat menyemarakkan festival dengan menyuguhkan berbagai varian jamu tradisional. Sontak saja, suasana kegiatan sudah meriah sejak dimulai sekitar pukul 06.00 WIB. Adapun pesertanya meliputi berbagai instansi, dinas, sekolah, hingga masyarakat umum. Mereka berlomba meracik jamu hingga mendesain stand seunik mungkin.

Terlihat, Bupati Nganjuk H. Novi Rahman Hidayat hadir di tengah-tengah kegiatan. Suasana kian pecah saat dilakukan pemilihan “Mbok Jamu” dengan kategori paling eksis dan populer. Peserta pun berusaha menunjukkan pose terbaiknya dengan berlenggok-lenggok di cat walk layaknya penjual jamu sungguhan.

Disampaikan, festival jamu Nganjuk 2019 ini bertujuan memperkenalkan para pelaku usaha jamu gendong yang masih bertahan di Kabupaten Nganjuk. Mereka diharapkan mengolah jamu dengan aman, sehat dan bersih, sehingga mampu membangkitkan kembali eksistensi Jamu tradisional di kalangan masyarakat.

“Selain itu, kreasi modern juga diperlukan untuk menjangkau konsumen para generasi muda untuk ikut melestarikan minuman kesehatan khas Indonesia ini,” ungkap Bupati Novi di sela kegiatan.

Sementara itu, Fitri Mawardhieni, salah satu pengunjung mengaku festival ini mengingatkan dia akan kenangan masa lalu. Selain menarik, kegiatan ini membuatnya teringat masa kecilnya yang sering dibelikan jamu beras kencur untuk penambah nafsu makan waktu kecil dulu. “Festival ini sangat menarik, mengingat jamu tradisional sulit ditemukan di Nganjuk. Semoga bisa menjadi event tahunan,” harapnya.

Diketahui, penyelenggara telah menyediakan bahan-bahan jamu secara lengkap untuk kemudian diracik para peserta. Berbagai rempah ditata secara rapi guna membuktikan keaslian bahan jamu yang digunakan. Mereka diberi waktu sekitar satu jam untuk meracik jamu sesuai kreasi masing-masing. Masyarakat pun bisa menyaksikan dan mengamati teknik-teknik yang digunakan dalam mengolah jamu.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date