Dolar menguat, Harga Benang Untuk Tenun Ikat Kena Imbasnya

Kediri, koranmemo.com – Menguatnya mata uang dolar terhadap rupiah tak hanya berdampak pada sektor industri skala besar saja.  Industri rumahan pun juga terkena imbasnya. Salah satunya adalah industri tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul,  Kecamatan Kota,  Kota Kediri. Sejak nilai tukar dolar menyentuh angka nyaris Rp 15 ribu dua pekan lalu,  harga benang yang menjadi bahan baku utama tenun ikat juga ikut mengalami kenaikan.

Ruqayah,  salah satu pemilik industri tenun ikat menjelaskan,  selama ini benang untuk produksi tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul masih harus mengimpor dari India.  Jika biasanya dia hanya harus membayar Rp 750 ribu per 5 kilogram benang,  sejak dua pekan lalu,  dia harus membayar Rp 780 ribu per 5 kilogram benang.  “Kalau dihitung per potong,  naiknya Rp 2.000,” ujar Ruqayah.

Kendati demikian,  wanita yang sudah menekuni tenun ikat sejak tahun 1989 ini  memastikan,  harga tenun ikat untuk saat ini masih belum dinaikkan. Menurutnya,  kenaikan Rp 2.000 per potong itu masih bisa ditoleransi. Baru seandainya dolar semakin menguat dan harga benang per potong mencapai Rp 5.000, dia akan menaikkan harga produknya.  “Kalau sekarang,  masih bisa menutup biaya produksi.  Jadi tidak perlu dinaikkan,” kata Ruqayah.

Ruqayah sendiri berharap hal itu tidak perli sampai terjadi.  Dia ingin agar Rupiah bisa menguat,  sehingga dia tidak perlu menaikkan harga produknya. “Sampai hari ini harganya masih belum mengalami perubahan. Semoga kalau berubah,  harganya turun, bukan naik,” tuturnya.

Editor : Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date