DLHKP Terapkan Manifes Elektronik Pengelolaan Limbah B3

Kediri, koranmemo.comPerusahaan penghasil bahan berbahaya beracun (B3) baik corporate besar, rumah sakit, klinik, maupun industri kecil menengah (IKM) harus melaporkan secara online pengelolaan limbah produksinya.

 Hal ini dikatakan Ridwan Salimin, Kasi Pemanfaatan Sampah dan Penanganan B3 DLHKP Kota Kediri saat acara manifest elektronik untuk laporan bahan berbahaya beracun (B3) yang berlangsung di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Rabu (28/3).

Pelaporan elektronik ini untuk mempermudah pengawasan limbah sehingga mudah dalam mengevaluasinya.

Dikatakan, sosialisasi ini diikuti sebanyak 70 perwakilan perusahaan penghasil limbah B3 di Kota Kediri. Dari 100 perusahaan penghasil limbah B3, hanya terdapat 30 persen yang sudah melakukan pelaporan limbah B3 secara online.

Manifes elektronik ini menurutnya, merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir terjadinya kecurangan dalam sistem barkode.”Kalau perusahaan yang menghasilkan B3 di Kota Kediri sebenarnya banyak sekitar 100. Tetapi untuk sementara kami mengundang sekitar 70 perusahaan,” jelasnya.

Manifes elektronik ini, kata Ridwan memberikan kemudahan dalam pelaporan. Sebelumnya pelaporan B3 menggunakan paper list yang dinilai kurang efisien. Nantinya diharapkan semua perusahan yang menghasilkan limbah B3 dapat menggunakan manifes elektronik.

Untuk saat ini, menurutnya, kendala yang dihadapi yakni lambatnya registrasi sehingga manifes elektronik itu belum diterapkan secara menyeluruh. “Dulu pelaporannya menggunakan kertas. Dengan adanya aturan baru saat ini menggunakan online dengan pelaporan setiap tiga bulan sekali,” imbuhnya.

Dengan adanya pelaporan secara elektronik ini, menurutnya. perusahaan menjadi lebih tertib administrasi. Semisal dalam sebulan menghasilkan 100 ton limbah, maka pelaporannya harus sesuai dengan jumlah yang ada.

Dengan pelaporan secara online itu, katanya, akan memberikan keuntungan secara ekonomi dan kepastian hukum bagi sistem pengangkutan limbah B3 industri sampai kepada pengelola limbah B3 yang legal.

”Jika hasil limbah 100 kilogram misalkan hanya dilaporkan 80 kilogram maka akan merugikan perusahaanya sendiri, karena yang 20 kilogram akan dibawa kemana. Sebab untuk pengelolaan limbah B3 hanya di tempat tertentu. Untuk saat ini hanya ada di Mojokerto dan Jawa Barat,” tandasnya.(adv)

Reporter: Canda Adisurya

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date