DLH : Semua Perusahaan Wajib Miliki IPAL

Ngawi, koranmemo.com – Kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan industri kebanyakan adalah tidak memfungsikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) setiap hari, sehingga limbahnya dibuang ke saluran umum tidak diolah dalam IPAL. Untuk itu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Kabupaten Ngawi menegaskan agar semua industri di Ngawi wajib memiliki IPAL.

“Semua perusahaan wajib memiliki IPAL, bukan berarti hanya perizinannya saja melainkan juga harus dikelola dengan benar,” kata Kabid Penataan dan Peningkatan Lingkungan Hidup DLH Ngawi Didik Soemartoyo, Kamis (1/2).

Dia mengakui, yang menjadi masalah adalah, masih ada industri yang tidak menggunakan IPAL dalam mengolah sisa limbah produksinya, meskipun hal itu dalam jumlah yang relatif kecil, namun aturan harus dipatuhi.

Sebab, jika tidak mempunyai IPAL, maka pencemaran lingkungan pasti tidak bisa dikendalikan. “Untuk itu kami akan melakukan pemeriksaan kepada seluruh perusahan di Ngawi terkait IPAL. Kami berlakukan juga pada setiap perusahaan untuk melaporkan IPAL-nya ke DLH setiap tiga bulan sekali,” terangnya.

Mendasar data DLH, ada 86 perusahaan yang sudah memiliki Upaya pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Namun, kata Didik, pihaknya belum melakukan pengecekan secara keseluruhan terkait kepemilikan IPAL pada masing-masing perusahaan.

“Kalau UKL/UPL sudah, tapi untuk IPAL pastinya ada yang sudah dan ada yang belum. Karena dari dulu tidak diberlakukan wajib lapor soal IPAL, jadi belum terdeteksi,” ungkapnya.

Bahkan, pihaknya telah menyurati seluruh perusahaan yang sudah memiliki UKL/UPL untuk wajib memiliki IPAL dan melaporkan setipa 3 bulan sekali.

“Dari 86 perusahaan maupun industri baru sekitar 4  yang datang untuk mengurus IPAL tersebut,” tandasnya.

Sebelumnya,  DLH telah memanggil PT Semen Indogreen Sentosa (SIS) anak perusahaan PT Waskita Karya (Persero). Lantaran diduga melanggar aturan pengelolaan lingkungan. Baik administrasi hingga pengelolaan limbah yang tak memenuhi syarat.

Hingga membuat petani protes karena limbahnya telah mencemari lahan pertanian di Desa Grudo Ngawi.

“PT SIS  tidak memfungsikan IPAL setiap hari. Sehingga limbah yang dibuang ke saluran umum dan mengakibatkan pencemaran lingkungan,” tambahnya.

Reporter: Dika Abdillah/Juremi

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.