Dituntut 2,6 Tahun, Ibu Pembuang Bayi Tertunduk

Lamongan, koranmemo.com -Terdakwa Lusi Anastasi, warga Desa Waru Kulon Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan, yang tega membuang bayinya sendiri dituntut oleh JPU 2,6  tahun, dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Rudy Wibowo,S.H.,M.H.

Setelah mendengar tuntutan itu, perempuan tersebut menyesal, hal itu terlihat ketika terdakwa hanya diam tertunduk selama pembacaan tuntutan.

Adapun JPU Andhika Nugraha,SH, dalam berkas tuntutannya menjelaskan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menempatkan anak dalam situasi perlakuan salah.

“Meminta kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan dan denda sebesar Rp. 1.000.000,- subsider 2 bulan kurungan,” jelasnya dalam pembacaan tuntutan  di ruang sidang candra Pengadilan Negeri Lamongan, Kamis (7/6/2018).

Sebagaimana yang diatur dan diancam pidana dalam pasal 77B Jo pasal 76B UU RI nomor 35 tahun 2004 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam dakwaan kedua penuntut umum.

Penasihat hukum terdakwa, Atip, S.H.,M.Hum merasa keberatan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum dan pihaknya akan  melakukan pembelaan. “Kami akan meminta kepada Majelis Hakim untuk memintakan hukuman terdakwa seringan-ringannya dalam agenda pembelaan (pledoi),” terangnya.

Lebih lanjut, perbuatan ini memang terbukti melanggar hukum yang dilakukan terdakwa. Namun penasihat hukum menjelaskan bahwa perbuatan terdakwa dilakukan dengan dasar terpaksa dan rasa malu.

“Terdakwa merasa malu dengan keluarga dan tetangga, karena terdakwa hamil di luar nikah. Terdakwa panik dan harus menanggung beban yang sangat berat itu dan menaruh bayi tersebut di atas tumpukan sampah biar diambil oleh orang lain,” tambahnya lagi.

Selain itu, terdakwa Lusi Anastasi saat dikonfirmasi juga mengaku sangat keberatan dengan tuntutan jaksa penuntut umum dan akan melakukan pembelaan (pledoi) yang akan dipasrahkan ke penasihat hukumnya.

“Sangat keberatan ya dengan tuntutan itu, saya akan meminta keluarga untuk mediasi dengan penasihat hukum untuk agenda sidang selanjutnya yang dilakukan pada tanggal 21 juni 2018,” tutupnya.

Reporter: M. Fiddin/Fariz Fahyu

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date