Dibiarkan Rusak, Jembatan Lama Kertosono Jadi Saksi Bisu Pertahankan Kemerdekaan

Nganjuk, koranmemo.com – Jembatan Kertosono atau yang biasa dikenal dengan sebutan jembatan lama kini sudah tidak bisa dilalui lagi. Pasalnya, petugas Polsek Kertosono telah memasang garis polisi mulai Sabtu (3/2) pagi, karena dinilai membahayakan bagi pengendara yang melintas. Lantas, apakah putusnya akses jembatan ini akan memutus nilai historis yang ada di dalamnya ?

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat di era sekarang ini hanya memandang jembatan lama sebagai jembatan yang sudah tidak layak pakai lagi. Terlebih, setelah ada jembatan baru di sebelahnya yang kini menjadi jalan utama bagi kendaraan, atau tepatnya berada di sebelah barat Simpang Empat Bajuri (Jombang-Nganjuk-Kediri).

Sebenarnya jika mau menggali lebih dalam lagi, jembatan yang terlihat rapuh ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, jembatan inilah yang dulu menjadi penghubung bagi pemuda Nganjuk maupun Kertosono dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Mungkin sumbangsih kekuatan besar dari para pemuda akan berkurang banyak seandainya dulu jembatan lama ini tidak pernah ada.

“Menurut keterangan beberapa sumber, dulunya sering terjadi pertempuran antara warga setempat dengan penjajah di area sekitar jembatan lama. Kalau tidak ada jembatan ini mungkin para pemuda akan kesulitan dalam mempertahankan kemerdekaan,” Kisah Luqman Surya, pendiri Sastrajendra ketika melakukan aksi teatrikal di jembatan ini beberapa waktu lalu.

Bahkan, melalui beberapa aksi unik, Luqman bersama kawan-kawan pecinta seninya kerap menyuguhkan aksi-aksi menarik yang mengandung unsur kritik dan saran kepada pemerintah. Pihaknya berharap agar pemerintah bisa melestarikan jembatan ini atau minimal mengambil langkah agar nilai sejarah dari jembatan lama ini tidak terhapus begitu saja seiring perkembangan zaman.

“Kami berharap kepada pemerintah agar tetap menjaga jembatan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini. Akan lebih baik jika lokasi ini dijadikan monumen atau objek wisata edukasi,” tutur pria yang menjadi pembina dan pengasuh di Sastrajendra.

Kendati demikian, masyarakat juga tidak boleh terlalu dibutakan oleh sejarah, alias harus bisa berfikir dan memandang secara realita. Jembatan lama ini memang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Akan tetapi, untuk tetap memaksakan agar jembatan ini bisa dilalui dengan kondisi yang sekarang ini tentu merupakan pilihan yang konyol. Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memikirkan mau dibawa kemana nasib jembatan lama ini untuk ke depan.

“Upaya penutupan jembatan ini guna mengantisipasi jangan sampai terjadi kecelakaan. Terlebih sampai menelan korban jiwa akibat terperosok ke lubang jembatan,” ungkap Kapolsek Kertosono, Kompol Abraham Sisik.

Pantauan di lapangan, kondisi fisik jembatan lama memang sudah sangat mengkhawatirkan bagi penggunanya. Badan jembatan yang membujur di atas sungai brantas terlihat nyaris putus. Hal itu disebabkan pada bagian kaki jembatan sudah tidak berfungsi untuk menyangga beban badan dan gelagar jembatan, karena mengalami degradasi (penurunan). Itu bisa dilihat dari kemiringan kaki sudah mencapai 90 derajat.

Reporter: Andik sukaca

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.