Dewan Sesalkan Telatnya Suplai Air Bersih di Polindes 

Trenggalek, koranmemo.com  – Krisis air bersih yang terjadi di sejumlah pondok bersalin desa (polindes) di Kabupaten Trenggalek memantik reaksi beberapa pihak. Karena bencana kekeringan kini tengah terjadi di sejumlah wilayah, banyak kalangan menilai seharusnya fasilitas kesehatan itu dijadikan skala prioritas mendapatkan suplai air bersih.

Kritikan ini salah satunya disampaikan Gusmanto, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, setelah mendapat kabar terjadi krisis air bersih di Polindes Desa Karanganyar Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek. “Khan itu rutin (kekeringan,red). Jadi langganan khan daerah-daerahnya ?,” katany Sta seraya heran mengetahui terdapat fasilitas publik yang mengalami krisis air bersih.Menyikapi adanya krisis air bersih yang terjadi di sebuah fasilitas kesehatan itu, dia menegaskan pemerintah daerah (pemda) harus segera tanggap dan merespon. “Harus bisa memberikan pelayanan publik yang standar minimalnya bisa mencukupi persoalan yang ada di polindes, terutama soal air tadi,” kata dia.

Diakuinya, topografi Kabupaten Trenggalek memang didominasi wilayah pegunungan. Namun dengan adanya PDAM, kata dia seharusnya dapat menjangkau hingga ke pelosok. “Pemerintah daerah ya harus juga membantu kekurangan air yang ada di tingkat masyarakat, terutama yang jauh dari perairan kita (PDAM,red). Terutama daerah gunung-gunung yang rawan kekurangan air,” tegasnya.

Untuk saat ini, lanjut dia, pengiriman suplai air bersih dinilai menjadi alternatif yang pas untuk mengatasi kekeringan di beberapa wilayah pegunungan saat musim kemarau. Namun di tengah upaya itu, juga sedangdilakukan pembuatan sumur dengan kedalaman hingga lebih dari 200 meter.

Jika membuahkan hasil, pengeboran sumur ini akan dilakukan secara masif, di beberapa wilayah yang rawan terjadi kekeringan. “Misal di wilayah Kecamatan Durenan itu yang menjadi langganan di wilayah Dusun Pingit Desa Gador. Tapi Alhamdulillah dengan adanya bantuan pemerintah daerah dengan lembaga DPRD disana ada bantuan yaitu salah satu pengeboran sumur,” kata dia.

Dia menyebut, pengeboran sumur ini memasuki tahap finishing. Nantinya satu titik sumber pengeboran itu, diperkirakan dapat dimanfaatkan di beberapa wilayah. “Jadi untuk satu titik, nanti bisa untuk mengaliri beberapa desa,” pungkasnya.

Disinggung soal keterlambatan suplai air  yang berdampak pada krisis air bersih di Polindes Karanganyar, Joko Rusianto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek menyebut, hanya kesalahan komunikasi. “Jadi hanya miskomunikasi saja. Sebagian saja yang kebetulan tidak ada. Kalau dia mau berusaha mengambil selang masih ada, karena di sekitar kantor desa masih banyak air,” katanya saat dikonfirmasi sejumlah awak media.

Namun Joko mengaku sudah mengirim satu tangki air bersih untuk pasokan air bersih di wilayah Desa Karanganyar Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek yang terdampak kekeringan. Desa itu, menjadi salah satu lokasi terdampak kekeringan dari puluhan desa di Kabupaten Trenggalek. “Sudah kami kirim air,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kemarau panjang yang terjadi saat ini berdampak pada menurunnya debit sejumlah embung yang mengakibatkan puluhan hektar sawah mengering. Kondisi ini terlihat, misalnya di wilayah Desa/Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek. Puluhan hektar sawah hanya dibiarkan saja oleh pemiliknya karena sudah tidak produktif, hingga musim hujan. Keadaan ini berlangsung dari tahun ke tahun.

Selain lahan sawah menjadi tak produktif, kekeringan juga berdampak pada krisis air bersih di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan. “Selama ini kalau sedang kering seperti ini tidak ada air pastinya berdampak pada pelayanan kesehatan di polindes ini. Kalau dari sumur sudah tidak ada, karena kemaraunya sudah cukup lama,” kata Dian Yukitama, Bidan Polindes Desa Karanganyar Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek saat dikonfirmasi.

Reporter Angga Prasetya
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date