Desa Penuntasan Proses Hukum Penebangan Kayu

*Plosokidul Bergolak Kediri, Memo Sebanyak tujuh perwakilan warga dan petani asal Desa Ploso Kidul Kecamatan Plosoklaten, Rabu (29/10) sekitar pukul 10.00 WIB mendatangi Mapolres Kediri. Maksud kedatangan warga untuk mempertanyakan kelanjutan penanganan kasus penebangan 265 batang pohon mahoni, 20 batang pohon trembesi berdiameter sekitar 1,5 meter, dan beberapa pohon lainnya yang terletak di tanah Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Margomulyo di Dusun Simbar Lor Desa Ploso Kidul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, sejak April hingga Oktober 2014 lalu. Langkah itu ditempuh karena kasus yang telah ditangani sejak beberapa minggu yang lalu hingga kini belum ada kejelasan, meskipun beberapa batang pohon telah disita polisi sebagai barang bukti. Desakan penuntasan proses hukum terhadap kasus itu mengemuka karena warga menilai penebangan yang dilakukan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Dalam hitungan warga, untuk 265 batang pohon mahoni yang ditebang, kerugian bisa mencapai nominal Rp 1,325 miliar. Angka itu diperoleh dari hitungan tiap pohon berharga Rp 5 juta. Jika dikali dengan jumlah 265 pohon maka berjumlah Rp 1,325 miliar. Sedangkan untuk 20 batang pohon trembesi berdiameter sekitar 1,5 meter, dalam hitungan warga, tiap pohon senilai Rp 25 juta. Jika 20 pohon dikali dengan harga Rp 25 juta, bisa mencapi nominal Rp 500  juta. Hitungan ini berbeda jauh dengan keterangan yang disampaikan Kepala Desa Plosokidul M Irwan Hidayat. Sebelumnya saat dikonfirmasi Koran Memo pada Senin (27/10) sore tentang asumsi nominal hasil kayu, Irwan mengutarakan jika hasil penjualan kayu tidak sebanyak kabar yang beredar yang mencapai miliaran rupiah. Menurut Irwan, untuk pohon mahoni, per rit laku Rp 1 juta, dengan jumlah total 4 rit. Jika di total Rp 4 juta.  Sedangkan untuk trembesi dan pohon pete, mente, alpokat, sengon, mindi, jati laku per rit dengan harga Rp 800.000. Kala itu ada sekitar 25 rit, yang jika dikalikan adalah Rp 20 juta. Semetara itu, terkait kedatangan warga, Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Nandu Dyanata, mengaku jika dalam pertemuan pihaknya telah memberikan penjelasan tentang penanganan kasus yang memang masih dalam penyelidikan dan terus berjalan. “Kita menjelaskan kepada warga jika kasusnya tetap berjalan. Memang saya akui hingga kini masih belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar AKP Nandu, kepada Koran Memo Rabu (29/10) siang. Terpisah, Arif Dion, perwakilan warga, sekaligus mantan Kepala Desa Plosokidul mengaku jika pihaknya mengapresiasi langkah polisi yang terus melakukan penyelidikan atas kasus ini. Meski begitu dia meminta agar polisi segera menuntaskan kasus tersebut. “Bagaimana juga kami mengapresiasi pihak kepolisian yang meneruskan proses hukum kasus ini. Namun demikian, kami belum merasa puas jika dalam kasus ini masih belum ada pihak yang ditetapkan menjadi tersangka,” kata Dion. (ag)
*Plosokidul Bergolak
Kediri, Memo
Sebanyak tujuh perwakilan warga dan petani asal Desa Ploso Kidul Kecamatan Plosoklaten, Rabu (29/10) sekitar pukul 10.00 WIB mendatangi Mapolres Kediri. Maksud kedatangan warga untuk mempertanyakan kelanjutan penanganan kasus penebangan 265 batang pohon mahoni, 20 batang pohon trembesi berdiameter sekitar 1,5 meter, dan beberapa pohon lainnya yang terletak di tanah Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Margomulyo di Dusun Simbar Lor Desa Ploso Kidul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, sejak April hingga Oktober 2014 lalu. Langkah itu ditempuh karena kasus yang telah ditangani sejak beberapa minggu yang lalu hingga kini belum ada kejelasan, meskipun beberapa batang pohon telah disita polisi sebagai barang bukti.
Desakan penuntasan proses hukum terhadap kasus itu mengemuka karena warga menilai penebangan yang dilakukan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Dalam hitungan warga, untuk 265 batang pohon mahoni yang ditebang, kerugian bisa mencapai nominal Rp 1,325 miliar. Angka itu diperoleh dari hitungan tiap pohon berharga Rp 5 juta. Jika dikali dengan jumlah 265 pohon maka berjumlah Rp 1,325 miliar. Sedangkan untuk 20 batang pohon trembesi berdiameter sekitar 1,5 meter, dalam hitungan warga, tiap pohon senilai Rp 25 juta. Jika 20 pohon dikali dengan harga Rp 25 juta, bisa mencapi nominal Rp 500 juta.
Hitungan ini berbeda jauh dengan keterangan yang disampaikan Kepala Desa Plosokidul M Irwan Hidayat. Sebelumnya saat dikonfirmasi Koran Memo pada Senin (27/10) sore tentang asumsi nominal hasil kayu, Irwan mengutarakan jika hasil penjualan kayu tidak sebanyak kabar yang beredar yang mencapai miliaran rupiah. Menurut Irwan, untuk pohon mahoni, per rit laku Rp 1 juta, dengan jumlah total 4 rit. Jika di total Rp 4 juta. Sedangkan untuk trembesi dan pohon pete, mente, alpokat, sengon, mindi, jati laku per rit dengan harga Rp 800.000. Kala itu ada sekitar 25 rit, yang jika dikalikan adalah Rp 20 juta.
Semetara itu, terkait kedatangan warga, Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Nandu Dyanata, mengaku jika dalam pertemuan pihaknya telah memberikan penjelasan tentang penanganan kasus yang memang masih dalam penyelidikan dan terus berjalan. “Kita menjelaskan kepada warga jika kasusnya tetap berjalan. Memang saya akui hingga kini masih belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar AKP Nandu, kepada Koran Memo Rabu (29/10) siang.
Terpisah, Arif Dion, perwakilan warga, sekaligus mantan Kepala Desa Plosokidul mengaku jika pihaknya mengapresiasi langkah polisi yang terus melakukan penyelidikan atas kasus ini. Meski begitu dia meminta agar polisi segera menuntaskan kasus tersebut. “Bagaimana juga kami mengapresiasi pihak kepolisian yang meneruskan proses hukum kasus ini. Namun demikian, kami belum merasa puas jika dalam kasus ini masih belum ada pihak yang ditetapkan menjadi tersangka,” kata Dion. (ag)

*Plosokidul Bergolak

Kediri, Memo-Sebanyak tujuh perwakilan warga dan petani asal Desa Ploso Kidul Kecamatan Plosoklaten, Rabu (29/10) sekitar pukul 10.00 WIBmendatangi Mapolres Kediri. Maksud kedatangan warga untuk mempertanyakan kelanjutan penanganan kasus penebangan 265 batang pohon mahoni, 20 batang pohon trembesi berdiameter sekitar 1,5 meter, dan beberapa pohon lainnya yang terletak di tanah Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Margomulyo di Dusun Simbar Lor Desa Ploso Kidul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, sejak April hingga Oktober 2014 lalu.Langkah itu ditempuh karena kasus yang telah ditangani sejak beberapa minggu yang lalu hingga kini belum ada kejelasan, meskipun beberapa batang pohon telah disita polisi sebagai barang bukti.

Desakan penuntasan proses hukum terhadap kasus itu mengemuka karena warga menilai penebangan yang dilakukan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Dalam hitungan warga, untuk 265 batang pohon mahoni yang ditebang, kerugian bisa mencapai nominal Rp 1,325 miliar. Angka itu diperoleh dari hitungan tiap pohon berharga Rp 5 juta. Jika dikali dengan jumlah 265 pohon maka berjumlah Rp 1,325 miliar. Sedangkan untuk 20 batang pohon trembesi berdiameter sekitar 1,5 meter, dalam hitungan warga, tiap pohon senilai Rp 25 juta. Jika 20 pohon dikali dengan harga Rp 25 juta, bisa mencapi nominal Rp 500 juta.

Hitungan ini berbeda jauh dengan keterangan yang disampaikan Kepala Desa Plosokidul M Irwan Hidayat. Sebelumnya saat dikonfirmasi Koran Memo pada Senin (27/10) sore tentang asumsi nominal hasil kayu, Irwan mengutarakan jika hasil penjualan kayu tidak sebanyak kabar yang beredar yang mencapai miliaran rupiah. Menurut Irwan, untuk pohon mahoni, per rit laku Rp 1 juta, dengan jumlah total 4 rit. Jika di total Rp 4 juta. Sedangkan untuk trembesi dan pohon pete, mente, alpokat, sengon, mindi, jati laku per rit dengan harga Rp 800.000. Kala itu ada sekitar 25 rit, yang jika dikalikan adalah Rp 20 juta.

Semetara itu, terkait kedatangan warga, Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Nandu Dyanata, mengaku jika dalam pertemuan pihaknya telah memberikan penjelasan tentang penanganan kasus yang memang masih dalam penyelidikan dan terus berjalan. “Kita menjelaskan kepada warga jika kasusnya tetap berjalan. Memang saya akui hingga kini masih belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar AKP Nandu, kepada Koran Memo Rabu (29/10) siang.

Terpisah, Arif Dion, perwakilan warga, sekaligus mantan Kepala Desa Plosokidul mengaku jika pihaknya mengapresiasi langkah polisi yang terus melakukan penyelidikan atas kasus ini. Meski begitu dia meminta agar polisi segera menuntaskan kasus tersebut. “Bagaimana juga kami mengapresiasi pihak kepolisian yang meneruskan proses hukum kasus ini. Namun demikian, kami belum merasa puas jika dalam kasus ini masih belum ada pihak yang ditetapkan menjadi tersangka,” kata Dion. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date