Dalethyne Sembuhkan Nosokomial

*Pertama dan Satu-Satunya di Dunia

 

Della Cahaya Praditasari, Surabaya

Risiko pasien rumah sakit terkena infeksi nosokomial rupanya masih menjadi salah satu masalah di rumah sakit seluruh dunia, termasuk Indonesia. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat dan berkembang saat seseorang berada di lingkungan rumah sakit. Contoh dari infeksi nosokomial adalah pasien tertular infeksi dari staf rumah sakit atau saat berkunjung ke  rumah sakit.

——————-

Infeksi nosokomial ini terjadi di seluruh dunia dan berpengaruh buruk pada kondisi kesehatan di negara-negara miskin dan berkembang. Infeksi nosokomial ini termasuk salah satu penyebab kematian terbesar pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit.

Menurut penjelasan dr Agung Dwi Wahyu Widodo, Koordinator Program Studi Imunologi Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga, infeksi nosokomial ini baru terlihat setidaknya 3×24 jam setelah pasien tersebut dirawat di rumah sakit. “Bakteri nosokomial tersebut bisa menulari pasien karena keteledoran staf rumah sakit dan tidak berjalannya prosedur kebersihan dengan benar. Salah satunya adalah penanganan pada luka terbuka,” ujar dr. Agung dalam jumpa pers di Auditorium Fakultas Kedokteran Kampus A Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (3/8).

Pasien yang terkena infeksi nosokomial ini perlu mendapat antibiotik khusus yang tidak bisa hanya diberikan sekali atau dua kali. Permasalahannya, harga satu kali pemberian antibiotik tersebut tidaklah murah, sementara jika tidak segera diberikan bisa berakibat kematian. “Satu kali pemberian antibiotik bisa sampai Rp 700 ribu. Bayangkan kalau sehari harus diberikan sebanyak 3 kali dan selama 2 minggu. Biaya yang dikeluarkan bisa banyak sekali,” lanjutnya.

Namun rupanya, dari penelitian dr Agung bersama dengan tim Imunologi Pasca Sarjana Universitas Airlangga, ditemukan adanya zat aktif bernama dalethyne yang mampu memerangi infeksi tersebut. Zat dalethyne ini ditemukan oleh Kayapan Satya Dharsan, CEO sekaligus Founder Dermozone, sebuah perusahaan medcare terkemuka di Indonesia. “Kami mengamati beberapa temuan penting yang berhubungan dengan mekanisme kerja zat aktif dalethyne dalam kapasitasnya pada proses penyembuhan luka, yang mana dipercaya temuan ini menjadi terobosan penting pada ilmu kedokteran abad ini dan akan merevolusi modalitas penanganan penyembuhan luka,” tutur dr. Agung.

Sementara, Kayapan Satya Dharsan, atau yang lebih akrab disapa Dharsan ini mengungkapkan, penemuan dalethyne, zat yang berasal dari buah zaitun ini, masih satu-satunya di dunia. Dia berani menjamin, bahkan di negara-negara mediterania, tempat buah tersebut banyak tumbuh, penemuan ini pun masih belum berkembang. “Di Indonesia yang pertama kali dan masih satu-satunya. Saya sangat berharap, penemuan zat dalethyne ini bisa tersebar di seluruh dunia,” kata Dharsan.

Dharsan sendiri melakukan penelitian tentang zat delathyne selama bertahun-tahun. Dia sampai bisa menciptakan mesin khusus yang dapat memisahkan komponen penting pada minyak dengan menggunakan oksigen, yaitu peroxide, anisidine, iodine, dan aldehyde, yang selanjutnya dikenal dengan nama dalethyne tersebut. “Dalet berarti empat dalam bahasa Ibrani, melambangkan empat komponen pada minyak yang bekerja sama dalam proses penyebuhan luka,” jelas pria yang telah memiliki 16 kepemilikan hak cipta atas produk temuannya. (*)

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date