Ciptakan Pengeringan Gabah Praktis Untuk Petani

Surabaya, koranmemo.com – Sebagai negara yang mayoritas penduduknya mengonsumsi beras sebagai bahan pangan utama, tanaman padi tentunya menjadi salah satu komoditas terbesar di Indonesia. Namun sayangnya, masih banyak proses pengolahan padi menjadi beras seperti pengeringan gabah yang dilakukan secara konvensional.

Kondisi ini mengilhami tiga mahasiswa ITS untuk menciptakan metode pengeringan gabah yang efektif dan ramah lingkungan.

Dengan inovasi memanfaatkan fenomena wind corona sebagai solusi baru pengeringan gabah, tim yang terdiri dari Ahmad Bariq Al Fahri, Pinanggih Rahayu dan I Wayan Ersa Saputra itu pun berhak atas dana hibah pengembangan dari Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018.

Ahmad Bariq Al Fahri, selaku ketua tim memaparkan selama ini terdapat dua metode pengeringan gabah yang diterapkan di Indonesia.

“Selain menggunakan sinar matahari langsung, ada petani yang memanfaatkan alat pengering berbasis teknologi termal,” katanya Senin (30/7/2018).

Sayangnya, menurut mahasiswa yang kerap disapa Bariq ini, dari hasil riset timnya ditemukan adanya celah pada dua metode tersebut. Pengeringan menggunakan sinar matahari langsung, membutuhkan waktu minimal tiga hari untuk mendapatkan gabah yang kering sempurna. Dengan catatan kondisi panas matahari stabil dan cukup selama waktu pengeringan.

“Cuaca di Indonesia yang tidak menentu beberapa tahun belakang ini tentunya sangat merugikan petani yang mengandalkan metode ini (dengan menggunakan sinar matahari langsung, red),” ungkap Bariq.

Sebenarnya, kata Bariq, alat pengering modern berbasis termal juga bisa menjadi solusi. Namun, penggunaan alat pengering modern ini mengakibatkan penurunan nilai gizi dari gabah, kehigienisan tidak terjamin, serta membutuhkan konsumsi energi listrik yang cukup tinggi.

“Padahal saat ini dunia sedang ramai mengurangi penggunaan energy, termasuk energi listrik,” tutur mahasiswa Teknik Elektro ITS tersebut.

Lain halnya dengan pengering berbasis wind corona temuan Bariq dan tim. Dengan menggunakan alat ini, proses pengeringan padi hanya berlangsung selama sejam tanpa mengurangi nilai gizi dan struktur gabah.

“Dengan metode yang kami kembangkan ini, tidak ada penurunan kualitas gizi, selain itu juga lebih ramah lingkungan,” jelas Bariq yang melakukan uji kualitas gizi di Laboratorium Kimia Instrumen ITS.

Bariq menjelaskan, wind corona sendiri merupakan fenomena tegangan tinggi yang timbul ketika level tegangan belum mencapai kondisi untuk dapat mengalirkan alur listrik (pre- breakdown). Wind corona ini akan menimbulkan suatu medan di antara dua elektroda.

“Dalam kasus ini, elektroda berbentuk jarum pada bagian atas dan lingkaran sebagai tempat diletakkannya gabah,” urai pria 21 tahun tersebut.

Dalam prosesnya, jelas Bariq, usai meletakkan gabah basah di antara kedua elektroda, tegangan akan dinaikkan secara perlahan hingga mencapai kondisi pre-breakdown. Kemunculan wind corona akan ditandai dengan desis listrik lalu gabah didiamkan hingga mengering.

“Dibandingkan dengan pengeringan konvensional, metode ini berhasil menurunkan massa air dua kali lipat lebih banyak,” aku Bariq.

Di akhir, Bariq berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai metode baru yang efektif dan ramah lingkungan dalam proses pengeringan gabah.

“Semoga terdapat tindak lanjut dari pemerintah atau badan dan institusi terkait untuk penelitian yang lebih lanjut,” pungkas pria yang bercita-cita untuk berpartisipasi dalam ketahanan pangan dan konservasi energi nasional ini.

Reporter: Alammudin/ Sumber: ITS.ac.id

Editor: Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date