Cintai Motor Klasik Antik Nan Unik

Anang Kurniawan, Manajer Persik Kediri

Berbicara dunia olahraga sepakbola siapa yang tidak kenal dengan figur Anang Kurniawan. Tampilan identik dengan potongan rambut plontos itu membuat pria bernama lengkap Muhamad Anang Kurniawan familiar. Tokoh muda itu merupakan manajer Persik, tim sepakbola kebanggaan masyarakat Kediri. Dibalik kecintaanya terhadap sepakbola, tersimpan hobi menarik dan juga unik. Pria asal Nganjuk kelahiran 15 Juli 1979 itu mengoleksi motor bututnya.

 

Ketika Koran Memo menyambangi rumahnya di Perumahan Mojoroto Indah Blok B No 6 Kota Kediri, Senin (2/1), Anang terlihat sibuk mengutak-atik salah satu motor koleksinya. “Nyasar ya mas?Ayo masuk,”ucapnya ramah.

Sembari mengobrol ringan ditemani secangkir kopi manis, Anang mulai menceritakan asal muasal motor klasik yang saat ini menjadi koleksinya. Hobi yang sudah ditekuni sejak 2002 itu berawal dari ketertarikannya pada motor butut yang dimiliki pamannya. Tampilan beda serta penampilan motor pamannya itulah yang membuat bapak tiga anak itu kepincut terhadap motor lawas. “Dulu kalau gak salah motor paman adalah motor Honda Mindi. Pertama melihat langsung seneng aja,”tutur Anang .

Ibarat cinta, pandangan pertama itulah yang membuatnya kian tertarik dengan nuansa motor klasik dan unik. Dia lantas mencari berbagai informasi tentang motor antik melalui media sosial maupun komunitas yang ada. Tidak hanya itu, dia mulai berburu onderdil motor yang diidamkan. “Harus restorasi semuanya. Soalnya produk baru sudah tidak keluar lagi,”ujar lulusan STPDN itu.

Dengan telaten Anang mengumpulkan berbagai onderdil motor untuk kemudian disatukan menjadi sebuah sepeda motor. Meskipun memakan durasi waktu cukup lama, tak sedikitpun melunturkan kecintaanya pada motor klasik. Anang menyebut, dalam perakitan sebuah motor klasik membutuhkan waktu hampir 2 tahun. “Kadang bisa lebih, kadang sebaliknya. Sebab saya selalu memakai onderdil yang original sesuai merk motornya,”imbuhnya.

Terkadang untuk mencukupi pemenuhan onderdil motor dambaanya, Anang harus mencari hingga ke luar pulau. Bahkan, speedo meter salah satu motornya dipesan dari Malaysia lantaran kesulitan mendapatkan onderdil original di dalam negeri. “Memang sulit mencarinya, makanya itu harus sabar. Itu saja juga pesan temen Persik Mania yang ada di Kuala Lumpur,”ujarnya sembari tertawa.

Meskipun butuh kesabaran tinggi dan ketelatenan, perjuangan yang dilakukan sebanding dengan harga tawar sebuah sepeda motor. Anang bercerita, pernah suatu ketika sepeda motornya ditawar dengan harga cukup fantastis. Bagaimana tidak, harga penawaran hampir setara dengan harga sebuah mobil. “Pernah dulu yang Honda CD 90 tahun 1964 ditawar Rp 35 juta. Tapi tidak saya kasih. Sayang kalau dijual,”celetuknya.

Selama lima tahun menekuni hobinya, Anang mempunyai 4 motor klasik dari berbagai merk serta tahun yang berbeda. Dia menyebut, diantara empat motor klasik yang dikoleksinya, paling tertarik dengan tampilan motor Honda Benly Queen tahun 1962. “Itu saya suka. Selain tampilan menarik sudah 150 CC. Selain itu juga mesin dobel, dan sudah ada double starternya,”jelas pria yang juga sebagai staf Pemkot Kediri itu.

Anang mengatakan, setiap motor klasik yang dikoleksinya terdapat cerita menarik yang tak pernah dia lupakan. Pernah suatu ketika, lanjut Anang ketika hendak membeli sebuah motor yang dijual melalui media sosial Anang hampir ketiban sial. Pasalnya, motor yang hendak dibeli tak sesuai dengan harapannya. “Beruntung dulu saya punya teman didaerah itu sehingga tidak jadi tertipu. Sebab motor yang ditawarkan ternyata abal-abal. Padahal sudah mau deal dulu,”kenangnya.

Dua motor lainnya juga memiliki kisah berbeda. Misalnya motor Yamaha Bebek V50 tahun 1973 dan Honda Gareng tahun 1969. Untuk mendapatkan dua motor itu, Anang harus mencari di dua kota yang terbilang cukup jauh. “Untuk Gareng dapatnya di Semarang, sedangkan Bebek V50 dapatnya di Mojokerto. Ya sambil melatih kesabaranlah,”kata Anang.

Tak hanya sebatas koleksi. 4 motor bututnya kerap kali dijadikan sebagai sarana transportasi kesehariannya. Biasanya, Anang menggunakan motor klasik itu hanya untuk jarak tempuh pendek. Sebab, kondisi fisik kendaraan yang tak memungkinkan untuk menempuh jarak jauh. “Biasanya untuk ke masjid, mengantar les, atau untuk berkeliling bersama keluarga,” ungkap putra almarhum Sumiran, wasit voli nasional itu.

Meskipun sudah kepincut dengan motor klasik lantas tak membuat Anang melupakan prioritas keluarganya. Disela kesibukannya beraktivitas, Anang tetap menyempatkan diri untuk membantu isterinya berjualan kerudung. “Itukan cuma sekedar hobi mengisi waktu luang. Utamanya ya membantu isteri berjualan kerudung,”pungkasnya. (angga prasetya)

 

Follow Untuk Berita Up to Date