Cabdindik Sebut Masih Kesulitan Susun Soal USBN

Kediri, koranmemo.com – Sesuai dengan peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Nomor 0048/BSNP/XI/2018 tentang prosedur operasional standar penyelenggaraan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur (Jatim) wilayah Kota dan Kabupaten Kediri mulai mempersiapkan soal ujian untuk tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) sederajat. Sedikitnya 75 persen sampai 80 persen soal, akan disusun oleh Musyawarah Gurun Mata Pelajaran (MGMP).

Kasi Pendidikan SMA, SMK, dan PKLK, Cabdindik Jatim wilayah Kota dan Kabupaten Kediri, Sidik Purnomo mengatakan, penyusunan naskah soal untuk USBN masih mengalami sedikit kesulitan. Setelah mendapat kisi – kisi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tim penyusun naskah soal harus menelaah sesuai dengan ruang lingkup siswa di masing – masing sekolah. “Telaah dilakukan untuk menyesuaikan ruang lingkup kisi – kisi dengan siswa, dan harus sesuai dengan bobot yang ditentukan,” jelasnya, saat ditemui koranmemo.com, Rabu (5/12).

Bahkan, lanjut Sidik, perwakilan guru yang termasuk dalam MGMP ini, harus membuat dua paket soal. Paket soal ini nantinya untuk soal utama yang digunakan sebagai ujian, dan satu paket lagi untuk soal ujian susulan. Masing – masing paket, tetap dengan bobot soal yang sama dengan jumlah soal 30 sampai 40 pilihan ganda dan 5 soal uraian.

Dalam penyusunan soal ujian tersebut, MGMP harus memahami bobot soal diantaranya Lower Order Thingking Skills (LOTS), Midler Order Thingking Skills (MOTS), dan Higher Order Thingking Skills (HOTS). “Dengan adanya soal yang berbobot, dapat meningkatkan satuan mutu pendidikan di satu wilayah sehingga soal seperti ini sangat diperlukan,” ujarnya.

Menurut Sidik, 25 persen sampai 30 persen dari jumlah soal, disusun oleh Kemendikbud. Sedangkan 75 sampai 80 persen sisanya, disusun oleh MGMP masing – masing daerah. Dalam pelaksanaan USBN, setiap lembaga sekolah berbeda. “Setiap sekolah berbeda, ada yang sepenuhnya menggunakan kertas, ada yang sepenuhnya menggunakan komputer, dan ada sebagaian sekolah yang menggunakan metode campuran,” sahutnya.

Kriteria kelulusan siswa untuk mata pelajaran (mapel) setiap sekolah juga berbeda. Penilaian ujian, sepenuhnya ditentukan oleh pihak sekolah. Karena, setiap sekolah mempunyai kriteria penilaian yang berbeda, tergantung dengan sistem pembelajaran yang dilakukan. “Misalnya dalam satu mapel, sekolah bisa memberi penilaian sebesar 50 persen untuk jawaban pilihan ganda, 50 persen jawaban uraian. Perbandingannya bisa 60 – 40, 70 – 30, atau 80 -20, antara jawaban pilihan ganda dengan jawaban uraian,” tutur Sidik.

Waktu pelaksanaan USBN tingkat SMA dan SMK sederajat, sambung Sidik, dilaksanakan pada bulan Maret 2019. “Rencana dari Kemendikbud, setelah melaksanakan USBN. Murid SMK akan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada minggu terakhir bulan Maret. Sedangkan untuk SMA, akan dilaksanakan awal bulan April. Semoga siswa lebih siap melaksanakan ujian untuk tahun ajaran 2018/2019,” tandasnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date