Bupati Interogasi Pengedar Sabu Jaringan Lapas, Segera Tes Urin PNS Beserta DPRD

Nganjuk, koranmemo.com – Bupati Nganjuk H. Novi Rahman Hidayat menghadiri konferensi pers penangkapan dua pengedar narkoba jaringan lapas, Jumat (6/9) di Mapolres Nganjuk. Dalam kesempatan itu Bupati Novi sempat menginterogasi kedua tersangka secara langsung, serta akan berupaya mencegah peredaran barang haram tersebut di wilayahnya.

Pada konferensi pers ini, Bupati Novi juga didampingi oleh Forkopimda beserta instansi terkait. Dengan menginterogasi tersangka secara langsung, ia ingin mengetahui pengakuan mereka sehingga nekat mengedarkan narkoba di Kota Angin.

Bupati Novi mengatakan, Pemkab Nganjuk memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan pihak kepolisian, dalam menangkap dua pelaku pengedar narkoba yang terbesar sepanjang sejarah kabupaten Nganjuk. Dia juga merasa prihatin, dengan pemakaian dan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, yang tiap tahunnya jumlah pecandu barang haram di kalangan anak muda terus meningkat.

“Kami secepatnya akan mengeluarkan perbup tentang adanya edukasi terkait bahaya narkoba. Penerapan edukasi tersebut mulai tingkat dasar sampai sekolah tingkat atas,” ungkapnya.

Selain itu, secara berkala juga akan dilakukan tes urine kepada seluruh ASN dan tenaga di lingkungan Pemkab Nganjuk. Dalam hal ini, pemerintah kabupaten Nganjuk akan menggandeng BNN dan Polres Nganjuk. “Kami akan koordinasi dengan Ketua DPRD, agar seluruh anggota beserta jajaran juga dites Urin oleh BNNK. Ini dilakukan semata-mata untuk menekan peredaran Narkoba di wilayah Nganjuk,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bupati Novi mengatakan, pemakai narkoba di kalangan remaja biasanya dipicu oleh hal-hal yang sifatnya coba-coba, pergaulan, hingga latar belakang rumah tangga yang broken home.

Diberitakan sebelumnya, Polres Nganjuk menangkap dua pengedar sabu-sabu jaringan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Madiun. Keduanya, Choirul Anam (39) dan Dian Dwi Cahyanto (37). Kapolres Nganjuk, AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranata, dalam konferensi pers menjelaskan, penangkapan dua pengedar sabu-sabu ini merupakan salah satu upaya pemberantasan narkoba di wilayahnya, bersama instansi terkait.

“Yang tertangkap pertama adalah pengedar yang kecil. Pengedar kecil ini mengambil barang bersumber dari Lapas Madiun,” jelasnya.

Kapolres mengatakan, kasus ini terungkap pada tanggal 1 September 2019 lalu. Pada saat itu, Tim Satreskoba Polres Nganjuk mendapat informasi tentang adanya peredaran Narkoba yang dilakukan oleh Choirul Anam. Kemudian, tim di bawah komando Kasatreskoba Polres Nganjuk Iptu Pujo Santoso melakukan pengejaran. Choirul Anam pun tertangkap saat melintas di Jalan Desa Lestari, Kecamatan Patianrowo menggunakan kendaraan roda empat jenis minibus, pukul 01.30 WIB.

Dari tangan tersangka, polisi menemukan dua klip sabu-sabu seberat 0.55 gram dan seperangkat alat hisap. Selanjutnya, tersangka bersama kendaraan serta barang bukti tersebut digelandang menuju ke markas. Kasus kemudian dikembangkan. Hasilnya, Dian Dwi Cahyanto ditangkap pada keesokan harinya.

Menurut AKBP Nyoman, modus yang dijalankan pelaku ketika menjual sabu-sabu terbilang unik. Yakni, dengan cara menempel sabu-sabu ke beberapa tiang listrik. Cara ini disebutnya sebagai peredaran terputus.

Dari penangkapan ini, polisi berhasil mengamankan 13 paket sabu-sabu-sabu-sabu kecil dengan berat total 52,88 gram. Kedua tersangka dijerat undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (adv)

Reporter Andik Sukaca/Muji Hartono

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date