Bulog Tak Bisa Penuhi Target Serapan Beras 

Share this :

Tulungagung, koranmemo.com- Badan urusan logistik (Bulog) Subdivre Tulungagung dipastikan tidak bisa memenuhi target serapan beras tahun 2017 sebanyak 58 ribu ton beras. Indikasinya hingga bulan November, Bulog masih bisa menyerap 47,4 persen atau setara 27.519 ton setara beras.

“ Mungkin hingga akhir Desember kami tidak bisa memenuhi target hingga 100 persen. Kemungkinan hanya bisa menyerap beras sekitar 65 persen,” ungkap Kepala Bulog Subdivre Tulungagung, Krisna Murtianto, kepada koranmemo.com, Rabu (8/11).

Krisna menuturkan, tidak tercapainya serapan beras pada akhir Desember karena waktunya tinggal satu bulan. Disamping itu, sejumlah area persawahan juga ditanami jagung, sedangkan tanaman padi masih belum waktunya panen atau petani masih mulai menanam. “Kini waktu kurang satu bulan, untuk memenuhi target kelihatannya tidak mungkin,” jelasnya.

Menurut Krisna, minimnya capaian serapan beras oleh bulog hingga awal November 2017 ini, dikarenakan pengaruh harga beras di pasaran jauh di atas HPP pemerintah sebesar Rp 7.300 ribu per kilogram. Sementara harga beras saat memasuki musim hujan pada periode panen Agustus hingga Oktober hingga berfluktuasi di kisaran Rp 8.500- Rp8.700 per kilogram. “Selisih yang terlalu jauh membuat petani cenderung memilih menjual gabah atau beras kering giling mereka ke swasta,” ujarnya

Sedangkan harga gabah kering panen (GKP) dari pemerintah sekitar Rp 3.700 per kilogram gabah, kendati pemerintah telah menaikan harga GKP menjadi Rp 4.070 per kilogram gabah pada Agustus lalu. Harga tersebut masih terbilang jauh dengan harga di pasaran yang kini mencapai Rp 5000 hingga Rp 5.600 per kilogramnya.

“Hukum ekonomi pasti berlaku, ketika barang di pasar minim sedangkan permintaan banyak maka harga akan naik. Sebaliknya jika barang melimpah dan permintaan sedikit dipastikan harga turun,” jelasnya.

Melihat selisih harga di pasaran yang terbilang tinggi, kata Krisna, pihaknya kini bermain pada serapan beras komersil yang ditargetkan oleh pemerintah selama satu tahun harus mampu menyerap 3000 ton.

Dimana, pihak bulog dapat membeli beras dari petani dengan harga mulai Rp 8.100 hingga Rp 8.600 per kilogram dalam bentuk beras. Yang mana beras itu nantinya akan diolah kembali dengan kemasan “beras kita” dan dijual kembali melalui rumah pangan kita (RPK).

 “Kalau kita bicara premium, berdasarkan acuan kementrian pertanian beras bulog masih dalam koridor medium kendati plastik kemasan sudah masuk kategori premium, tapi kalau isinya kami tidak berani mengatakan premium,” katanya.

Karena dari kementrian pertanian dan kementrian perdagangan, bahwa beras yang dikatakan premium itu untuk kondisi beras broken pada kisaran 15 persen ke bawah. Sedangkan untuk beras yang memiliki broken 15 hingga 25 persen masuk kategori medium. “Dan beras yang bulog saat ini masih memiliki kadar broken sekitar 15 hingga 25 persen,” pungkasnya.

Reporter : Denny Trisdianto

Editor: Achmad Saichu

 

Facebook Comments
Follow Us

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz