Bersama PWI, Dandim Ajak Hindari Upaya Provokatif

Nganjuk, koranmemo.com -Salah satu rangkaian kegiatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Nganjuk menjelang Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 adalah menghadiri undangan silahturahmi dari Komandan Kodim (Dandim) 0810/Nganjuk, Rabu (7/2) malam, di Makodim setempat. Pada kesempatan tersebut, Dandim mengajak wartawan untuk menjaga stabilitas negara, salah satunya dengan menghindari adanya upaya provokasi.

Ketua PWI Nganjuk, Andik Sukaca mengungkapkan, tujuan dari acara ini selain sebagai ajang perkenalan dan silaturahmi, juga menjadi wujud keberadaan PWI di Kabupaten Nganjuk. “Ini merupakan bukti, bahwa keberadaan PWI sebagai organisasi wartawan bisa diterima dan diakui, bahkan dibutuhkan oleh unsur negara termasuk TNI serta elemen masyarakat,” ujarnya.

Andik juga mengapresiasi langkah Kodim 0810/Nganjuk yang pada kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan demi stabilitas negara. Terlebih, dengan banyaknya upaya dari berbagai pihak yang ingin mengacaukan negara dengan cara mengadu domba maupun melempar isu bersifat provokatif melalui berbagai media.

“Pemaparan dari bapak Dandim tadi menurut saya sangat luar biasa, karena membuka wawasan kami sebagai insan pers terkait pentingnya membuat berita yang berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Tadi bapak Dandim juga mengajak wartawan untuk menghindari adanya upaya adu domba maupun provokasi, terutama melalui pemberitaan yang tidak benar,” imbuhnya.

Dalam sambutannya, Dandim 0810/Nganjuk, Letkol.Arh Sri Rusyono, mengatakan pentingnya memahami secara luas tentang wawasan kebangsaan. Sebab, musuh yang kita hadapi saat ini bukan negara tapi Proxy War. “Kalau dalam bahasa Jawa, Proxy War itu artinya ‘nabok nyilih tangan’, jadi kita mesti hati- hati,” kata Dandim 0810/Nganjuk.

Untuk itu, Dandim mengajak semua masyarakat waspada terhadap upaya fitnah, provokasi, dan adu domba serta terorisme, paham radikalisme, juga narkoba karena bisa mengganggu stabilitas keamanan. “Karena bangsa Indonesia tidak lahir didasarkan atas persamaan kelahiran, kesukuan, asal usul kedaerahan, ras, ataupun keagamaan,” ungkap Sri Rusyono.

Letkol Arh Sri Rusyono menyampaikan, Bhineka Tunggal Ika merupakan keberagaman yang tidak dimiliki oleh negara lain. Indonesia memiliki banyak keragaman suku, agama, warna kulit, bahasa, letak geografi, dan kondisi ekonomi serta adat istiadat. “Akan tetapi NKRI dibentuk karena kesepakatan bukan keseragaman,” jelasnya.

Sebelum menutup sambutan, Dandim Letkol Arh Sri Rusyono, mengajak semua masyarakat khususnya wilayah Kabupaten Nganjuk, termasuk para awak media untuk menjaga situasi kondusif dengan pemberitaan yang berimbang dan tidak menghasut pada gelaran Pilkada serentak mendatang. “Terlebih, dua tahun ke depan merupakan tahun politik, sehingga tidak timbul konflik di negara kita. Jangan sampai negeri ini menjadi kancah konflik antar agama dan antar kelompok,” pungkasnya.

Reporter : Muji Hartono

Editor : Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.