Bermodal Tekad, Sukses Kembangkan Usaha

Pengrajin Seni Ukir Kayu

Berawal dari keisengan, Amir Hasim membuat kursi sudut, kini usaha berlanjut menjadi bisnis menguntungkan. Itulah perjalanan yang dialami Amir Hasim bersama dengan kakaknya Umar Hasam dalam merintis usaha seni ukir kayu yang beralamat di Jalan Brantas Lingkungan Talun Kecamatan Talun Kabupaten Blitar.

———————-

Terjun dalam dunia seni ukir, awalnya tak pernah terpikirkan dua bersaudara itu. Mereka terlahir dengan latar belakang dan hobi yang berbeda. Hasim adalah lulusan SMK jurusan mesin, sedangkan Hasam hanya menempuh pendidikan hingga SMP. Namun tekad dua bersaudara itu patut mendapatkan acungan jempol. Saat merintis usaha, mereka mendapat banyak cibiran. “Bagaimana orang percaya, saya dan kakak tidak mempunyai skill dibidang ukir. Jelas dulu pasti ada beberapa orang sempat menyindir yang kurang enak didengar,”ucapnya.

Sebelum terjun ke dalam bisnis tersebut, kedua pria itu pernah bekerja di berbagai bidang. Hasim misalnya, pernah bekerja di salah satu pabrik di Kota Malang. Satu setengah tahun ditempuhnya, Amir merasa kurang tertantang lantaran tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Kemudian ia memilih keluar dan bekerja disebagai penyiar di salah satu radio di Kota Blitar. “Kurang lebih 3 bulan saya bekerja sebagai penyiar dan memutuskan keluar juga,”jelasnya.

Sempat dibuat pusing lantaran tak mendapatkan pekerjaan membuat, pria kelahiran Blitar, 9 Januari 1992 itu memompa semangatnya untuk mendapatkan pekerjaan. Tak disangka setelah malang melintang mencari pekerjaan, Hasim kembali bekerja sebagai tenaga tidak tetap di Perhutani. “Bekerja serabutan gitu,”kata Dia.

Saat bekerja itulah, dia memutar otak agar bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Di situlah awal perjalanan usahanya dimulai. Hasim tanpa sengaja mempunyai keinginan untuk memiliki sebuah kursi sudut. Kemudian ia segera memesan kursi tersebut di sebuah pengrajin ukir di Lodoyo Blitar. “Namun ketika mau membayar saya tidak punya uang dan saya meminta kepada kakak saya. Kemudian kakak saya bilang, buat apa kamu mengukir dengan biaya mahal. Mending saya yang ngukir tak usah bayar,”ucap Hasim menirukan ucapan kakaknya.

Kata-kata itu menggerakkan hatinya. Setelah dilakukan musyawarah, keduanya memutuskan untuk mencoba membuat ukiran pada jendela yang ia pesan di pengrajin sebelumnya. “Tanpa disangka apa yang diucapkan kakak saya benar, dan kami bersama-sama telaten menekuni seni kerajinan kayu tersebut,”ujarnya.

Meski tanpa kemampuan memadai, dua bersaudara itu melanjutkan tekadnya untuk merintis usaha mandiri. Tanpa pikir panjang, Hasim memberanikan diri untuk mengorder alat pengukir di Jawa Tengah. “Saya nitip sopir truk yang kebetulan kirim kesana. Kebetulan saya mempunyai kenalan,”ungkapnya.

Tak disangka bisnis yang ditelateninya lambat laun kian berkembang. Berbagai orderanpun mulai berdatangan. Alhasil setelah lebih dari satu tahun berjalan, kedua kakak beradik itu bisa mengembangkan usahanya dan dapat berkembang dengan sukses. “Meskipun awal kali menjualnya harus melalui door to door,”pungkasnya.(angga/prasetya)

 

Follow Untuk Berita Up to Date