Belajar Sejarah Melalui Pameran Foto

Perjalanan 50 Tahun Pendirian Kampus Tribakti

Sebagian orang biasanya merasa malas jika belajar mengenai sejarah. Namun hal yang berbeda jika proses pembelajaran tersebut dilakukan dengan cara yang unik sepeti pameran foto. Ya beginilah cara mahasiswa Universitas Tribakti Kediri belajar sejarah pendirian kampus yang terletak di Kecamatan Mojoroto.

Suasana kampus Tribakti Kediri tampak berbeda dari biasanya. Ya pagi kemarin di kampus yang terletak di Kecamatan Mojoroto ini sedang berlangsung pameran fotografi. Namun bukan foto pemandangan alam atau model yang mereka tampilkan, namun para tokoh sejarah dalam pendirian kampus Tribakti Kediri.

Terlihat puluhan mahasiswa tampak antusias menyaksikan pameran foto tersebut. Sebagian diantara mereka baru mengetahui mengenai perjalanan sejarah tokoh ulama di Kediri dari kegiatan tersebut. “Pameran foto ini merupakan bukti perjalaan pergerakan pendidikan di Kediri. Berawal dari pondok pesantren hingga berdirinya universitas pertama di Kediri,” tutur Imam Mubarok, penanggung jawab pameran foto.

Berdirinya Universitas Islam Tribakti Kediri adalah bukti penting perjalanan pergerakan pendidikan di Kediri. Perguruan tinggi yang lahir ketika pergolakan politik negara pasca tragedi 1965 membuktikan sang founding father, Al Mukarom KH Mahrus Aly sosok seorang kiai yang memiliki cita-cita yang luar biasa.

KH. Mahrus Aly yang lahir di Dusun Gedongan, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. itu adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahirannya. Sifat kepemimpinannya sudah nampak sedari kecil. Rutinitas Rusydi sehari-hari menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga. Beliau diasuh oleh ayahnya sendiri, KH Aly dan sang kakak kandung, Kiai Afifi.

Menginjak usia 18 tahun, KH Mahrus Aly melanjutkan pencarian ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah. Disinilah kegemaran belajar ilmu nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni.

Di tahun 1929, KH. Mahrus Aly melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah dibawah asuhan KH. Kholil. Setelah 5 tahun menuntut ilmu di pesantren ini (sekitar tahun 1936 M) KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni KH Mahrus Aly berniat tabarukan di Pesantren Lirboyo. Namun beliau malah diangkat menjadi pengurus pondok dan ikut membantu mengajar. Selama nyantri di Lirboyo, beliau dikenal sebagai santri yang tak pernah letih mengaji. “Jika waktu libur tiba, maka waktu luangnya ia gunakan untuk tabarukan dan mengaji di pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari,” tutur Imam Mubarok.

KH Mahrus Aly kemudian dijodohkan dengan salah seorang putri KH Abdul Karim yang bernama Zaenab, pada tahun 1938. Setelah berkeluarga pada tahun 1944, KH Abdul Karim mengutus KH Mahrus Aly untuk membangun rumah di sebelah timur komplek pondok.

Sepeninggal KH. Abdul Karim pada tahun 1954, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Di bawah kepemimpinan mereka berdua, kemajuan pesat dicapai Pondok Pesantren Lirboyo. Santri berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. “Bahkan ditangan KH Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama Universitas Islam Tribakti. Dari kultur yang alim, beliau menggagas intelektualitas pesantren yang dimilikinnya,” terang Imam Mubarok.

Imam Mubarok menambahkan, tahun 1970 menjadi tonggak penting perjalanan UIT dengan disematkannya status diakui melalu SK Menteri Agama RI KH Moh Dahlan yang mengokohkan langkah kampus Tribakti. Dalam tahun selanjutnya KH Mahrus Aly terus mengembangkan pembangunan di Kampus Universitas Islam Tribakti. “Semua perjalanan sejarah 50 tahun Tribakti tertuang dalam pameran foto ini,” pungkas Imam Mubarok. (nuramid hasjim)

 

Follow Untuk Berita Up to Date