Begini Cara SMK PGRI 2 Melestarikan Budaya Jawa

Kediri, koranmemo.com – Guru dan murid sekolah menengah kejuruan (SMK) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) 2 Kota Kediri mulai Kamis (2/8), menerapkan program baru memakai Bahasa Jawa untuk media komunikasi di lingkungan sekolah dan guru beserta staf karyawan memakai baju adat. Penerapan ini bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa di kalangan murid dan membantu proses pembentukan karakter murid.

Program guru dan staf sekolah memakai baju adat dilaksanakan setiap hari Kamis di minggu pertama setiap bulan, sedangkan penggunaan Bahasa Jawa untuk komunikasi di lingkungan sekolah dilakukan setiap hari Kamis dan dilakukan setiap minggu.

“Kalau pakaian adat baru hari ini dilaksanakan. Selain untuk melestarikan Budaya Jawa, kami juga mendukung program dari Gubernur Jawa Timur melalui Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Kota Kediri,” jelas Harun (55), Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Kota Kediri, Kamis (2/8).

Selain bertujuan untuk melestarikan adat budaya daerah khususnya adat Jawa, penggunaan Bahasa Jawa diharapkan mampu mendukung pembentukan karakter murid. Dalam penggunaan Bahasa Jawa ada tingkatan – tingkatan bahasa yang dipakai seperti ngoko, kromo, dan kromo inggil. Setiap tingkat bahasa, berbeda penggunaan tergantung lawan bicara.

“Sekarang jarang anak yang bisa menggunakan dan membedakan Bahasa Jawa, mereka masih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Paling sering masih menggunakan bahasa jawa ngoko,” imbuhnya.

Bahasa Jawa digunakan saat murid sedang berada pada jam pelajaran maupun dibluar jam pelajaran. Setiap hari Kamis guru dan murid berkomunikasi dengan Bahasa Jawa untuk memulai pelajaran yang akan dipelajari.

Menurut Suparno (52), wakil manajemen mutu, bahasa jawa yang digunakan masih proses penyesuaian sehingga murid masih perlu waktu untuk membiasakan diri. Namun tidak menghambat murid untuk belajar bahasa jawa dengan tingkatan yang ada. Murid juga ingin menggunakan pakaian adat seperti yang dipakai guru dan staf. “Mungkin masih awal, jadi masih merasa canggung, tapi kalau bukan kita yang melestarikan budaya jawa, siapa lagi?” sahutnya.

Sementara itu, Alma Hariyati (17) siswi kelas XII Akuntansi I, mengatakan, program baru ini membantu meningkatkan kemampuan belajar Bahasa Jawa, bisa menggunakan Bahasa Jawa sesuai tingkatan sehingga sopan santun dan adat budaya jawa masih bertahan.

“Kendalanya mungkin masih belum terbiasa. Sempat berjalan selama satu bulan, tapi karena banyak kegiatan kenaikan kelas sehingga baru efektif hari ini. Kebanyakan remaja sekarang lebih suka memakai bahasa gaul, tidak jarang mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi,” tutur A. Munadhifah (17), siswi kelas XII Akuntansi I.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date