Bedah Rumah Tak Layak Huni di Trenggalek Meningkat

Trenggalekkoranmemo.com – Realisasi program bedah rumah tak layak huni Badan Amil Zakat (Baznas) Kabupaten Trenggalek melampaui target. Sepanjang tahun 2018 Baznas Trenggalek telah membedah 86 rumah tak layak huni dari target 75 rumah. Peningkatan jumlah bedah rumah ini merupakan komitmen bersama untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Trenggalek.

Ketua Baznas Kabupaten Trenggalek, H Mahsun Ismail melalui Deni Riani, Pelaksana Baznas Kabupaten Trenggalek mengatakan, peningkatan jumlah bedah rumah tak layak huni di tahun 2018 merupakan realisasi perubahan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT). Pasalnya penerimaan Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (Ziswaf) sepanjang tahun 2018 meningkat sekitar 13,36 persen dari tahun sebelumnya.“Sebenarnya targetnya itu 75 rumah. Cuman setelah Oktober penerimaan kami meningkat, sisa yang lebih dari anggaran itu, anggaran perubahan RKAT kami alihkan ke bedah rumah. Karena permohonan dari bedah rumah itu banyak,” ujarnya saat dikonfirmasi koranmemo.com, Jumat (8/2).

Bahkan, lanjut Deni, saking banyaknya permintaan bedah rumah, sebanyak 26 rumah tak layak huni yang sudah masuk program bedah rumah tahun 2018 bakal direalisasi di tahun 2019 menggunakan alokasi anggaran tahun berjalan. Sebanyak 26 rumah tak layak huni itu sebagian telah dibedah rumah awal Januari 2019. Peningkatan bedah rumah ini merupakan wujud kepedulian masyarakat terhadap warga miskin.

“Di awal tahun tersisa 26 permohonan yang belum bisa kami realisasikan. Sebagian sudah kami realisasikan di bulan Januari 2019, tetapi pakainya anggaran di tahun 2019. Ini merupakan wujud kepedulian masyarakat. Mereka semakin melek informasi sehingga saudara kita yang belum mampu dapat kita bantu bersama,” jelasnya.

Deni menyebut, sepanjang tahun 2018, pertumbuhan penerimaan ZISWAF Baznas Kabupaten Trenggalek mencapai Rp 3.631.565.266,-. Penerimaan itu merupakan akumulasi dari zakat sebesar Rp 2.237.031.591,-penerimaan Infaq atau shodaqoh sebesar Rp 1.313.667.762,-dan penerimaan Wakaf  sebesar Rp 80.870.912,-.

Penerimaan itu untuk mencukupi berbagai kegiatan program Baznas bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek, termasuk program bedah rumah. Selain penerimaan, sisi pendistribusian tahun 2018 tersalurkan sebesar Rp 3.179.645.598,- atau 87,55% dari total penerimaan sehingga menyisakan saldo Rp 451.919.668 atau 12.44 persen.

“Komposisinya 46,52% untuk program Trenggalek Peduli meliputi Bedah Rumah, Alat Bantu Difabel, Biaya Hidup Fakir/Miskin, kemudian BAZNAS Tanggap Bencana. Sebesar 16,71% untuk Program Trenggalek Taqwa berupa Bantuan Stimulus Pembangunan Masjid/Mushola, Syiar Islam, Sertifikasi Tanah Wakaf, dan Diklat Pembelajaran metode Al-Qur’an,” jelasnya.

Sebagian besar dari alokasi infak, lanjut Deni sebesar 11,46% Program Trenggalek Sehat meliputi Bantuan Premi BPJS Fakir/Miskin, Biaya Berobat dan Akomodasi Berobat dalam/luar kota. Sebanyak 2,26% Program Trenggalek Makmur berupa bantuan pemberdayaan ekonomi, 1,74% Program Trenggalek Cerdas, 8,86% dana operasional.

“Operasional Baznas sebesar 8,86 persen atau Rp 321.657.298,-. Sebesar 12,44% saldo akhir tahun sebagai utang penyaluran pada awal tahun. Total penerima manfaat sejumlah 2.979 orang/lembaga,” imbuhnya.

Deni mengapresiasi pertumbuhan penerimaan Ziswaf yang signifikan sehingga memberikan dampak secara langsung kepada penerima manfaat. Misalnya untuk membantu orang yang sakit dan tidak mampu membayar biaya perawatan di rumah sakit, mengentaskan kemiskinan, dan beberapa program lainnya.

“Banyak masyarakat miskin yang terbantu dengan pertumbuhan penerimaan ZISWAF ini. Misal orang yang sakit dapat tertolong untuk biaya pengobatan, bedah rumah yang belum layak, yang memiliki skill usaha terbantu permodalan dan alat usaha, yang kesulitan biaya sekolah terbantu dalam pembiayaan dan output kualitas pendidikan yang baik,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date