Banjir Rendam Rumah Warga dan Belasan Hektare Sawah

Madiun, koranmemo.com – Akibat hujan deras di Kabupaten Madiun sejak semalam hingga Kamis (22/2) pagi, pemukiman warga dan belasan hektare sawah di sejumlah wilayah terendam banjir. Diantaranya melanda dua RT di Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng.

Marsum, salah seorang korban mengungkapkan, akibat  saluran menuju waduk Notopuro di Desa Duren meluap, air setinggi kurang lebih 30 sentimeter menggenangi dua RT dengan 40 KK, yakni Rt 13 dan 14 RW 05. ‘’Airnya mulai masuk subuh tadi dan terus meninggi,’’ ujarnya.

Banjir juga menggenangi jalan sepanjang kurang lebih 500 meter. Itu hanya untuk kendaraan pribadi. Truk-truk besar tidak bisa melintasi jalan alternatif di tengah permukiman warga tersebut. ‘’Setiap tahun musim hujan pasti banjir,” ungkapnya.

Akibat banjir, aktivitas warga terganggu. Bahkan proses belajar mengajar di SDN Pulerejo 3 dipercepat. Para siswa dipulangkan pukul 09.00 WIB. Selain itu, banjir juga terlihat menggenangi emperan toko di sepanjang jalan Caruban – Ngawi.

Sementara itu banjir parah di wilayah Kecamatan Balerejo, sekitar 19 hektare sawah tanaman padi berumur 80 hari dan siap panen terendam. Tanaman padi yang mulai menguning itu ambruk.

Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Moh Nadjib. Namun pihaknya menganggap banjir semalam tersebut hal biasa. ‘’Selama tidak terendam dua hari dua malam, tidak apa-apa,’’ jelasnya.

Nadjib mengatakan, kawasan pertanian di Kabupaten Madiun memang kerap dilanda banjir. Itu lantaran saluran air dan sungai sering  meluap selepas diguyur hujan lebat. ‘’Setiap musim penghujan memang seperti itu,’’ ungkapnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Edy Hariyanto dikonfirmasi mengatakan, banjir melanda Kecamatan Pilangkenceng karena kawasan Gunung Pandan yang diguyur hujan lebat pada Rabu (21/2).

“Jika daerah di atasnya diguyur hujan lebat, sudah dapat dipastikan daerah yang di bawah bakal menerima kiriman air. Begitu pula dengan hujan di Gunung Wilis, sehingga menyebabkan banjir di Kecamatan Balerejo dan Wungu,” ujarnya.

Menurutnya, penyebab banjir selama ini tak lain karena air harus antre masuk ke sungai. Itu pula yang terjadi pada waduk Notopuro. Debit air yang meningkat itu juga harus antre masuk ke waduk dengan lebar saluran yang tak seberapa. ‘’Saluran kecil, tapi debit tinggi. Ya otomatis banjir,’’ paparnya.

Ditambahkan, masyarakat juga harus introspeksi dengan banjir tersebut. Tak jarang air terhambat mengalir lantaran terhalang kotoran dan sampah yang sengaja dibuang oleh warga. Karena itu, pihaknya menghimbau jangan membuang sampah sembarangan.

Reporter: Juremi

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.