Balita Penderita Jantung Bocor dan Tak Punya Anus Butuh Uluran Tangan Dermawan

Nganjuk, koranmemo.com – Ananda Roni Sobirin (4) warga Desa Nglegok Sumengko Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk, hidup memprihatinkan dan membutuhkan uluran tangan para dermawan. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan, ia menderita jantung bocor serta tidak memiliki anus.

Informasi yang dihimpun Koranmemo.com, balita tersebut tidak memiliki BPJS, dan hanya mendapat bantuan berobat kartu miskin dari desa, Polsek, Koramil maupun kecamatan setempat. Sedangkan untuk langkah pengobatan yang lebih lanjut tidak dapat ditempuh lantaran terkendala masalah biaya. Bahkan keluarga ini terpaksa membuatkan alat terapi sendiri, lantaran harga alat yang dibutuhkan di rumah sakit berkisar Rp 600 ribu dan tidak mampu terbeli.

Anak dari pasangan Abdul Rochim dan Sriyani diketahui memiliki kekurangan secara fisik sehari pasca dilahirkan. Awalnya sang ibu tak mengira ada kelainan fisik pada buah hatinya. Sampai akhirnya ia merasa heran karena seharian bayinya tak kunjung buang air besar.

Setelah dilihat, ternyata anak keduanya itu tidak memiliki anus. Ketika diperiksakan ke pihak medis rupanya balita malang tersebut juga mengalami kebocoran jantung. Meski tak memiliki BPJS, beruntung ia masih memperoleh pengobatan berkat bantuan pemerintah melalui surat keterangan miskin.

Kendati demikian, tidak semua biaya pengobatan dijangkau oleh pemerintah, meskipun telah dibantu Polsek dan Koramil setempat. Salah satunya biaya untuk membeli alat terapi. Pihak keluarga akhirnya terpaksa membuat alat terapi sendiri yang terbuat dari lilin dibungkus sarung tangan serta dilumuri cairan jel, yang nantinya dimasukkan ke lubang anus buatan.

Walaupun tidak menjamin alat tersebut aman dan tidak berbahaya bagi sang anak, namun langkah ini terpaksa dilakukan karena kondisi ekonomi orang tua. Terlebih pekerjaan maupun penghasilan Abdul Rochim sehari-hari tidak menentu alias serabutan. Sehingga, untuk pengobatan terhadap anaknya tidak bisa maksimal.

“Saya berharap kepada pemerintah agar membantu memberikan fasilitas pengobatan yang maksimal di rumah sakit daerah maupun ke rumah sakit rujukan,” ungkap Sriyani, sembari menggendong putranya.

Pihak keluarga juga berharap adanya uluran tangan para dermawan untuk membantu meringankan penderitaan putra tercintanya. Terlebih, selain biaya pengobatan, orang tua bayi juga membutuhkan biaya untuk membrli alat terapi senilai Rp 600 ribu, agar lebih aman bagi balita.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date