Arisan dan Investasi Bodong Tipu Emak-emak Hingga Ratusan Juta Rupiah

Trenggalek, koranmemo.com – Belasan perempuan, mayoritas sudah berumah tangga mendatangi Satreskrim Polres Trenggalek, Jumat (22/3). Kedatangan mereka untuk menanyakan perkembangan aduan dugaan penipuan dan investasi bodong. Sebelumnya kalangan ibu rumah tangga (IRT) atau familiar disapa emak-emak ini ramai mengadu kepada polisi telah menjadi korban penipuan dengan kerugian ditaksir mencapai lebih dari Rp 700 juta.

Salah satu korban, Nanda Latifa menyebut, kedatangan mereka untuk menanyakan hasil pengaduan yang sebelumnya telah mereka layangkan. “Kedatangan kami untuk melaporkan kasus penipuan arisan dan investasi bodong. Kami sudah dipanggil untuk yang ketiga kali, tetapi masih disuruh menunggu,” ujarnya ketika mendatangi Mapolres Trenggalek.

Pelaporan ini sebagai buntut mediasi yang sebelumnya sudah pernah dilakukan. Meskipun telah mendatangi rumah terlapor yang juga warga Trenggalek, namun hingga saat ini belum menemukan titik terang sehingga mereka memilih menempuh jalur hukum. “Dulu pernah mediasi dengan pengacaranya (terlapor,red) juga. Kami juga pernah mediasi ke rumahnya hingga beberapa kali, namun tidak ada itikad baik,” jelasnya.

Padahal, lanjut perempuan yang mengaku telah menginvestasikan hartanya hingga puluhan juta rupiah itu menyebut, jika sebelumnya terlapor mengatakan sanggup mengembalikan uang pokok milik para korban pasca mengaku kolabs. Bahkan terlapor menyanggupinya pasca menjual rumahnya.

Namun hingga saat ini belum terealisasi. Ketika ditagih, sebut dia, terlapor justru tidak menunjukkan itikad baik. Kesal, akhirnya mereka membuat pengaduan ke Mapolres Trenggalek, perihal dugaan penipuan arisan dan investasi bodong. “Masalahnya Desember 2018. Katanya investasi ditutup sementara, dan uang pokok akan dikembalikan. Nyatanya sampai sekarang uang belum kami terima,” kata Nanda Latifa.

Senada diungkapkan Kiki Wulandari warga Desa Parakan Trenggalek yang juga menjadi korban dugaan arisan dan investasi bodong. Bahkan dia mengaku kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah. “Kalau untuk (korban,red) Trenggalek saja mungkin sekitar Rp 700 juta. Kalau ditambah (korban,red) kota lainnya, Solo, Surabaya, Malang, jumlahnya mencapai miliaran,” ujarnya di lokasi yang sama.

Kiki, sapaan akrabnya mengaku tergiur mengikuti bisnis itu dari media Facebook. Dia melihat track record bisnis tersebut tidak ada masalah, meskipun diakuinya wadah yang menaungi bisnis tersebut belumlah legal, karena tidak ada pengawasan dan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bank Indonesia seperti yang seharusnya disyaratkan. “Memang bagus dan tidak ada masalah, nggak ada lembaga,” katanya.

Dari situlah dia mulai menginvestasikan uangnya hingga ratusan juta. Terlebih, dari beberapa arisan yang sudah diikuti sejak 2014 dinilai lancar. Baru kemudian sekitar 9 Desember 2018 lalu, pihak owner mangaku kolabs pasca bisnis investasi yang masih berjalan setahun. “Kalau kerugiannya berbeda, mulai dari puluhan hingga ratusan juta. Kalau saya ratusan juga,” ujarnya sembari menunjukan beberapa bukti transaksi dan chatting grup yang sudah di printer.

Kiki dan beberapa korban lainnya, seperti Desy mengaku untung mengikuti bisnis tersebut. Sebab dengan uang modal Rp 4 juta, mereka bisa mendapatkan bunga hingga Rp 900 ribu tiap slotnya. Semakin banyak slotnya, maka semakin besar bunga yang akan diterima. “Jadi tiap menyetor tanggal berapa, nanti ketika mengambil kita mendapatkan bunga Rp 900 ribu dari uang Rp 4 juta. Tapi tidak tahu kok akhirnya seperti ini, karena awalnya memang tidak ada masalah,” sesalnya.

Kasat Reskrim Polres Trenggalek, AKP Sumi Andana ketika dikonfirmasi kedatangan belasan ibu-ibu rumah tangga ini mengatakan, jika kedatangan mereka untuk menanyakan pengaduan yang sebelumnya telah mereka layangkan dua minggu lalu. “Untuk menanyakan pengaduan dua minggu lalu, dugaan investasi bodong seperti yang mereka sampaikan,” jelasnya.

Dia menyebut pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menguak kasus tersebut. Pasalnya, dugaan arisan dan investasi bodong ini membutuhkan serangkaian pemeriksaan yang panjang karena melibatkan banyak pihak. Termasuk nantinya juga bakal melibatkan pakar dari perbankan. “Kami terbitkan surat tugas dan membentuk tim dari Pidsus dan Pidum untuk melakukan penyelidikan,” kata dia.

Sementara ini, lanjut Kasat Reskrim Polres Trenggalek, setidaknya terdapat belasan orang yang sudah mengadu dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp 700 hingga Rp 800 juta. Pihaknya juga sudah memanggil baik korban maupun terlapor. “Penyelidikan masih berjalan. Hari ini kami mintai keterangan terlapor, kemudian tadi ada 10 saksi yang kami mintai keterangan. Karena ini menyangkut dugaan investasi dan yang lain, kami bentuk tim gabungan,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date