Ada Polisi Taman Cantik, Apa Tugasnya?

Malang, koranmemo.comMinat masyarakat yang mengunjungi taman kota maupun hutan kota yang dibangun oleh Pemerintah Kota Malang sangat tinggi. Dengan hal itu, dapat menyebabkan kerusakan pada sarana dan prasarana, sehingga diperlukan pengawasan untuk menjaga dan menertibkan kawasan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Ika Chusniah, perempuan berusia 22 tahun ini, dia menjadi Polisi Taman (Poltam) untuk turut menjaga stabilisasi taman atau hutan kota.

Banyaknya taman kota yang di bangun oleh Pemerintah Kota malang, turut menyedot masyarakat untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata murah meriah dan salah satu wahana untuk bersantai atau berolahraga. Namun dengan hal itu, taman atau hutan kota juga perlu pengawasan agar tidak terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana serta tidak disalah gunakan fungsinya. Maka dari itu, dibentuklah Poltam. “Poltam dibentuk atau dibawah naungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang. Mereka bertugas menjaga fasilitas taman-taman kota, hutan kota dan jalur hijau,” ungkap perempuan kelahiran Malang, 20 Desember 1995 tersebut.Perempuan yang tinggal di Jalan Artowijoyo nomor 18 B Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang ini menjelaskan, pada awal bergabung menjadi Poltam dulu, mendapat informasi dari teman-temannya lalu mencoba mendaftar dan memenuhi beberapa syaratnya. Ternyata, pada bulan Februari 2018 dia diterima dan bekerja sebagai salah satu anggota Poltam. Tidak hanya itu, sambutan dari teman-temannya juga baik dan menyenangkan. Teman-temannya juga terbuka untuk mengajari bagaimana bekerja menjadi Poltam tersebut secara benar. “Saya merasa nyaman, bahkan pekerjaan yang digeluti juga mudah, tidak sesulit yang saya pikirkan sebelumnya. Jadi semakin betah,” ujarnya saat sedang bertugas jaga di Taman Merbabu.

Menurutnya, dalam meraih kesuksesan dalam bekerja harus dilakukan secara bertahap, tidak langsung mendapat posisi di atas. Satu hal yang bisa diambil positifnya yakni jalannya proses dalam satu pekerjaan itu. Dengan mengenal dan merasakan prosesnya, akan lebih punya banyak pengalaman serta jangkauan link yang luas. “Apalagi, Disperkim ini kan di bawah naungan Pemkot Malang, dan untuk masuk pasti banyak tantangan, sehingga ini merupakan kesempatan saya untuk mencari pengalaman dan link sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Maka dari itu, berkesempatan menjadi Poltam ini sangat disyukurinya. Untuk menjadi Poltam menurut Ika tidak harus seorang laki-laki, walaupun kebanyakan didominasi laki-laki. Dia juga yakin bisa untuk melakukan semua tugasnya. Ika juga tidak segan jika harus menegur dan memberi himbauan kepada masyarakat yang menggunakan taman tidak semestinya atau menyalahgunakan. “Tidak semua Poltam laki-laki, terbukti ada sekitar 10 anggota Poltam Perempuan dari jumlah total 51 Poltam di Kota Malang,” tuturnya.

Sementara tanggapan orang tuanya saat dia mendaftar di Poltam sangat mendukungnya. Orang tuanya juga menjelaskan bahwa menjadi Poltam juga tidak mudah. Banyak konsekuensi yang harus dihadapi karena berhubungan dengan masyarakat luas. Harus bisa memeberi contoh yang baik kepada masyarakat. Yang paling penting dalam bekerja dia tidak melupakan pendidikan yang masih ditempuh. “Kata orang tua saya tidak masalah jika bekerja sambil kuliah. Tapi harus benar-benar dapat membagi waktu agar tidak keteteran,” ujarnya.

Untuk menjadi anggota Poltam juga tidak semudah yang dibayangkan, karena masih baru bergabung sekitar 3 bulan ini, Ika juga terus belajar dari teman-teman seniornya dan mengikuti diklat sebagai Poltam nantinya. Untuk menjadi Poltam salah satunya harus mempunyai sikap ramah dan juga tegas saat menegur warga yang menyalahi aturan atau menyalahgunakan taman yang tidak semestinya. Dia juga menceritakan beberapa pengalamannya saat menegur, pernah ada seorang laki-laki yang ditegurnya namun malah menanggapi dengan senyuman saja. “Saya tegur dengan tegas, tapi peranginya malah senyam-senyum saja. Saya jadi bingung,” ungkap Ika yang juga sebagai mahasiswi di UMM semester 8 ini.

Selain itu, saat dirinya bertugas untuk berjaga di taman Alun-alun Kota Malang sering mendapati anak-anak yang kehilangan orang tuanya saat bermain di taman tersebut. Saat dia mendapati anak yang kehilangan orang tuanya, dia langsung membawa ke tempat informasi untuk diumumkan. Saat itu juga orang tuanya datang menjemput anak tersebut. “Pernah suatu ketika ada anak kehilangan orang tuanya, dia menangis lalu saya antar ke tempat informasi untuk diumumkan. Lalu ibunya datang menjemput. Ternyata anaknya ditinggal di playground dan ibunya berbelanja di salah satu Mall dekat Alun-alun tersebut,” paparnya.

Dalam melaksanakan tugas sebagai Poltam, Ika mendapat shift pagi dan siang. Shif pagi berjaga sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, jika shift siang berjaga dari pukul 13.00 WIB hingga 21.00 WIB. Dari 51 anggota dibagi ke beberapa taman yang dimiliki oleh Pemkot Malang. Sementara dia berjaga dibantu oleh dua teman lainnya. “Kebanyakan kalau perempuan mendapat shift pagi dan siang, kalau laki-laki dibagi dari pagi, siang dan malam,” pungkasnya.

Reporter: Yudha Kriswanto

Editor: Achmad Saichu