Tanggapan ‘Kalangan Bawah’ Tentang Pilkada: Memilih karena Duit

Nganjuk, koranmemo.com – Suhu politik di Kabupaten Nganjuk sudah terasa memanas dalam menyambut pesta demokrasi, yakni pemilihan gubernur (pilgub) dan pemilihan bupati (pilbup) yang dilakukan secara bersamaan pada 2018 mendatang. Lantas, bagaimana tanggapan masyarakat ‘kalangan bawah’ yang justru kurang tahu menahu dan tidak pernah terlibat dalam dunia politik mengenai pemilihan kepala daerah (Pilkada) tersebut ?

Dari beberapa wawancara yang dilakukan Koranmemo.com terhadap kalangan tersebut, mayoritas dari mereka mengaku tidak tahu menahu tentang rekomendasi, komunikasi politik, elektabiltas, maupun popularitas. Bahkan, dengan polos mereka mengakui jika biasanya tidak mengenal sama sekali calon pemimpin yang akan dipilih, mulai dari Pilbup, Pilgub, Pileg, maupun Pilpres.

“Kami jarang mengenal siapa calon pemimpin yang akan dipilih. Yang penting kami menilai siapa yang mau kasih ‘amplop’ (duit-red),” jawaban mayoritas yang diterima Korannemo.com.

Dalam salah satu perbincangan dengan Wakijo alias Mbah Jo, warga Kabupaten Nganjuk di wilayah barat, dikatakan jika alasan dia memilih lantaran berusaha amanah setelah menerima amplop. Selain itu, secara terang-terangan Mbah Jo mengaku lebih memilih bekerja di sawah seandainya tidak ada calon pemimpin yang memberi imbalan kepadanya.

“Sakniki ngeten, kulo niki amung tiyang alit, nek sampun diparingi yotro mosok badhe nyoblos lintune. Menawi mboten disukani kulo pilih teng sawah mawon oleh duit, soal e damel maem sakbendinane nggih duwit niku. (Sekarang begini, saya hanya orang kecil, jika sudah diberi uang masak mau mencoblos yang lain. Kalau tidak dikasih saya memilih ke sawah saja dapat uang, soalnya untuk makan setiap hari ya uang itu,” ujarnya dengan logat Jawa saat berbincang di sebuah warung kopi.

Hal senada disampaikan Saidi atau yang akrab disapa Mbah Di salah satu  pengunjung warung kopi. Pada kesempatan itu, Mbah Di dengan polos mengatakan jika siapapun yang menjadi pemimpin kelak, maka aktivitas yang dia lakukan tidak jauh berbeda. Ironisnya, lagi-lagi uang yang dijadikan tolak ukur dalam menyambut pesta demokrasi yang seharusnya menjadi hak mutlak masyarakat.

“Mau nanti yang jadi siapa saja, saya tetap kerja di sawah. Saya malah tidak tahu siapa to calone (cabup-red) ? katanya kemarin lusa ada pengajian yang dihadiri oleh calon. Saya tidak ikut pengajian, kalau ikut seperti itu dikasih uang atau tidak,” timpalnya sambil tersenyum.

Sementara itu, di sisi lain para kandidat bakal calon bupati (bacabup) saat ini sibuk mengurusi rekomendasi sebagai syarat mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Adapun yang sudah mendapat rekom sibuk menyusun serangkaian strategi untuk meningkatkan elektablitas dan popularitas sekaligus berharap mendulang perolehan suara.

Begitu juga dengan kalangan elit partai politik (parpol). Untuk rekom Dewan Pimpinan Pusat yang sudah turun sibuk mempersiapkan serangkaian strategi pemenangan. Sedangkan parpol yang rekomendasinya tak kunjung turun masih terus melakukan lobi maupun komunikasi dengan para kandidat bakal calon yang telah mendaftar.

Seolah tak mau kalah sibuk dengan politisi, para tokoh masyarakat yang didaulat sebagai tim sukses berusaha melakukan berbagai upaya untuk merebut hati masyarakat pemilih dan calon penguasa yang tengah diperjuangkan kemenangannya.

Reporter: Andik Sukaca

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.